Posts

Showing posts from November, 2016

Puisi Atas Kemerdekaan - Sapardi Djoko Damono

Atas Kemerdekaan kita berkata : jadilah dan kemerdekaan pun jadilah bagai laut di atasnya : langit dan badai tak henti-henti di tepinya cakrawala terjerat juga akhirnya kita, kemudian adalah sibuk mengusut rahasia angka-angka sebelum Hari yang ketujuh tiba sebelum kita ciptakan pula Firdaus dari segenap mimpi kita sementara seekor ular melilit pohon itu : inilah kemerdekaan itu, nikmatkanlah

Puisi Pada Suatu Hari Nanti - Sapardi Djoko Damono

Pada Suatu Hari Nanti Pada suatu hari nanti jasadku tak akan ada lagi… tapi dalam bait-bait sajak ini kau tak akan kurelakan sendiri… Pada suatu hari nanti suaraku tak terdengar lagi… tapi di antara larik-larik sajak ini kau akan tetap kusiasati… Pada suatu hari nanti impianku pun tak dikenal lagi… namun di sela-sela huruf sajak ini kau tak akan letih-letihnya kucari…

Puisi Kisah - Sapardi Djoko Damono

Kisah Kau pergi, sehabis menutup pintu pagar sambil sekilas menoleh namamu sendiri yang tercetak di plat alumunium itu… Hari itu musim hujan yang panjang dan sejak itu mereka tak pernah melihatmu lagi… Sehabis penghujan reda, plat nama itu ditumbuhi lumut sehingga tak bisa terbaca lagi… Hari ini seorang yang mirip denganmu nampak berhenti di depan pintu pagar rumahmu, seperti mencari sesuatu… la bersihkan lumut dari plat itu, Ialu dibacanya namamu nyaring-nyaring. Kemudian ia berkisah padaku tentang pengembaraanmu.. Perahu Kertas, Kumpulan Sajak, 1982.

Puisi Bunga-Bunga di Halaman - Sapardi Djoko Damono

Bunga-Bunga di Halaman mawar dan bunga rumput di halaman: gadis yang kecil (dunia kecil, jari begitu kecil) menudingnya… mengapakah perempuan suka menangis bagai kelopak mawar; sedang rumput liar semakin hijau suaranya di bawah sepatu-sepatu… mengapakah pelupuk mawar selalu berkaca-kaca; sementara tangan-tangan lembut hampir mencapainya (wahai, meriap rumput di tubuh kita)… 1968

Puisi Percakapan Malam Hujan - Sapardi Djoko Damono

Percakapan Malam Hujan Hujan, yang mengenakan mantel, sepatu panjang, dan payung, berdiri di samping tiang listrik. Katanya kepada lampu jalan, “Tutup matamu dan tidurlah. Biar kujaga malam.” “Kau hujan memang suka serba kelam serba gaib serba suara desah; asalmu dari laut, langit, dan bumi; kembalilah, jangan menggodaku tidur. Aku sahabat manusia. Ia suka terang.”

Puisi di Atas Batu - Sapardi Djoko Damono

di Atas Batu ia duduk di atas batu dan melempar-lemparkan kerikil ke tengah kali… ia gerak-gerakkan kaki-kakinya di air sehingga memercik ke sana ke mari… ia pandang sekeliling : matahari yang hilang – timbul di sela goyang daun-daunan, jalan setapak yang mendaki tebing kali, beberapa ekor capung — ia ingin yakin bahwa benar-benar berada di sini Perahu Kertas, Kumpulan Sajak, 1982.

Puisi Bunga, 3 - Sapardi Djoko Damono

Bunga, 3 seuntai kuntum melati yang di ranjang itu sudah berwarna coklat ketika tercium udara subuh dan terdengar ketukan di pintu tak ada sahutan seuntai kuntum melati itu sudah kering: wanginya mengeras di empat penjuru dan menjelma kristal-kristal di udara ketika terdengar ada yang memaksa membuka pintu lalu terdengar seperti gema “hai, siapa gerangan yang telah membawa pergi jasadku?”  Perahu Kertas, Kumpulan Sajak, 1982.

Puisi Bunga, 1 - Sapardi Djoko Damono

Bunga, 1 (i) Bahkan bunga rumput itu pun berdusta. Ia rekah di tepi padang waktu hening pagi terbit; siangnya cuaca berdenyut ketika nampak sekawanan gagak terbang berputar-putar di atas padang itu; malam hari ia mendengar seru serigala. Tapi katanya, “Takut? Kata itu milik kalian saja, para manusia. Aku ini si bunga rumput, pilihan dewata!” (ii) Bahkan bunga rumput itu pun berdusta. Ia kembang di sela-sela geraham batu-batu gua pada suatu pagi, dan malamnya menyadari bahwa tak nampak apa pun dalam gua itu dan udara ternyata sangat pekat dan tercium bau sisa bangm dan terdengar seperti ada embik terpatah dan ia membayangkan hutan terbakar dan setelah api …. Teriaknya, “Itu semua pemandangan bagi kalian saja, para manusia! Aku ini si bunga rumput: pilihan dewata!” Perahu Kertas, Kumpulan Sajak, 1982.

Puisi Berjalan ke Barat Waktu Pagi Hari - Sapardi Djoko Damono

Berjalan ke Barat Waktu Pagi Hari waktu berjalan ke barat di waktu pagi hari matahari mengikutiku di belakang aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang di depan aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan

Puisi Aku Ingin - Sapardi Djoko Damono

Aku Ingin Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada