Posts

Showing posts from January, 2017

Puisi Takut "66, Takut '98 - Taufiq Ismail

Takut "66, Takut '98 Mahasiswa takut pada dosen Dosen takut pada dekan Dekan takut pada rektor Rektor takut pada menteri Menteri takut pada presiden Presiden takut pada mahasiswa. 1998

Puisi Paris-La-Nuit - Sitor Situmorang

Paris-La-Nuit Malaikatku, malaikatku Turun menyelimuti senja kebosanan Menggeliat dalam beribu lampu lusuh Duka yang melapuk pada dinding hati menjadi ragi anggur nafsu hingga darah bening dan berlagu Malaikatku, malaikatku Dari asap pembiusan iseng Menguap ia di malam tipis Melepas dari kelabu rumah-rumah kota mati musim rontok Warna musim mengalun dalam angin jatuh berbisik: Anak dulu sudah jadi gadis. Angin, menyapu daun serta meluluh bayang ingin jalan, Lincah menggigil dalam tangis. Kabut iseng kotaku Terbalut dalam duka perawan keputihan salju, kala bangun: hanya malaikat tak kenal dosa Malaikatku terbalut tilam sutera malam dosa pada hati binatang kota belantara. Harimau piaraan di buah dada, isengku mendendam pada genitmu, Menatap dalam hutan malam candu Khayal serigala ingin yang kulepas berbiak dan meraung dalam mulut godamu Memunta...

Puisi Urat Bona Pa Sogit - Sitor Situmorang

Urat Bona Pa Sogit sebatang beringin, tempat leluhur di bayangnya bermusyawarah hal hidup dan hal baka sebuah mata air dari batu karang sumber pelepas dahaga 7 keturunan kali 7 keturunan, aku pun lahir sebuah rumah asal disebut parsantian perlambang jagat tiga tingkat bumi atas bumi tengah bumi bawah dari halamannya sejemput tanah keramat kutiup nafas bakal alas jasad bakaku tegak di atas segala bumi leluhur Ompu Raja Bunbunan pengawal adat lembaga di Tanah Urat

Puisi La Ronde - Sitor Situmorang

La Ronde I Senandung lupa pertemuan malam Dengan dirinya, memisah di kamar Meninggi musim hingga salju Jatuh, hingga bertambah lapar Dua kisah tak bertubuh Rasuk-merasuk bau kehadirannya "Sekira mati begini," bisik gelap Di puncak nikmat, hingga ke subuh Terbaring di dada malam. "Milikku seluruh," erang detik mengalir dalam ciuman, kegemasan bibir meraba waktu memadat jadi tubuh perempuan. Meninggi musim hingga ke subuh Jendela dibuka melihat salju jatuh II Adakah yang lebih indah dari bibir padat merekah? Adakah yang lebih manis Dari gelap dibayang alis? Di keningnya pelukis ragu: Mencium atau menyelimuti bahu? Tapi rambutnya menuntun tangan Hingga pinggulnya, penuh saran Lalu paha, pualam pahatan Mendukung lengkung perut. Berkisar di pusar, lalu surut Agak ke bawah, ke pusat segala. Hitam pekat, siap menerima. Du...

Puisi Kristus di Medan Perang - Sitor Situmorang

Kristus di Medan Perang Ia menyeret diri dalam lumpur mengutuk dan melihat langit gugur Jenderal pemberontak segala zaman, Kuasa mutlak terbayang di angan! Tapi langit ditinggalkan merah, pedang patah di sisi berdarah, Tapi mimpi selalu menghadang, Akan sampai di ujung: Menang! Sekeliling hanya reruntuhan. Jauh manusia serta ratapan, Dan di hati tersimpan dalam: Sekali 'kan dapat balas dendam! Saat bumi olehnya diadili, dirombak dan dihanguskan, Seperti Cartago, habis dihancurkan, dibajak lalu tandus digarami. Tumpasnya hukum lama, Menjelmanya hukum Baru, Ia, yang takkan kenal ampun, Penegak Kuasa seribu tahun! 1955

Puisi The Tale Of Two Continents - Sitor Situmorang

The Tale Of Two Continents Satu rasa dua kematian Satu kasih dua kesetiaan Antara benua dan benua Tertunggu rindu samudra Dua kota satu kekosongan Dua alamat satu kehilangan Antara nyiur dan salju Merentang ketidakpedulian tuju Semoga kasih tahu jalan kembali Pada pintu yang membuka dinihari Ke mana angin membawa diri Kekasih, semoga kau Dapat kepenuhan cinta dalam aku tiada Terpecah dua benua, suatu kelupaan di ...Sisik samudra. 1953

Puisi Paris-Janvier - Sitor Situmorang

Paris-Janvier Kepada clochard* Di udara dingin mengaum sejarah Bening seperti es membatu di hati Ada taman menari di siang hari Yang luput dari tangkapan malam rebah Di dasar sungai mengendap malam baru Mengiang di telinga pekik pemburu Antara senja dan malam Merentang luka yang dalam Inilah Paris, kota penyair Gua segal;a yang terusir Laut lupakan sesah Dalam dekapan satu wajah Terbawa dari segala mata angin Berdiang pada cinta, terlalu ingin Kelupaan sebuah kota Di mana duka berwujud manusia Dan bahagia pada manusia tak punya 1953 *clochard (bahasa Perancis): gelandangan

Puisi Chatedrale De Chartres - Sitor Situmorang

Chatedrale De Chartres Akan bicarakah Ia di malam sepi Kala salju jatuh dan burung putih-putih Sekali-sekali ingin menyerah hati Dalam lindungan sembahyang bersih Ah, Tuhan, tak bisa kita lagi bertemu Dalam doa bersama kumpulan umat Ini kubawa cinta di mata kekasih kelu Tiada terpisah hidup dari kiamat Menangis ia tersedu di hari Paskah Ketika kami ziarah di Chartres di gereja Doanya kuyu di warna kaca basah Kristus telah disalib manusia habis kata Ketika malam itu sebebelum ayam berkokok Dan penduduk Chartres meninggalkan kermis TErsedu ia dalam daunan malam rontok Mengembara ingatan di hujan gerimis Pada ibu, isteri, anak serta Isa Hati tersibak antara zinah dan setia Kasihku satu, Tuhannya satu Hidup dan kiamat bersatu padu Demikianlah kisah cinta kami yang bermula di pekan kembang Di pagi buta sekitar Notre Dame de Paris Di musim bunga dan mata remang Demikianlah kisah kisah hari Pasah Ketika seluruh alam diburu resah Oleh goda, zinah, cinta dan kota Karena dia, aku dan siteri yang...

Puisi Amoy-Aimee - Sitor Situmorang

Amoy-Aimee Terbakar lumat-lumat Menggapai juga lidah ingin Api di pediangan Terkapar sonder surat Mati juga malam dingin Lahirnya hari keisengan Mari, cabikkan malam Amoy Jika terlalu – ingin malam ini Besok ada mentari sonder hati Belum apa-apa hampa begini Jauh dalam terowongan nadi Berperang bumi dan sepi

Puisi Nyanyian Mesir Purba - Amir Hamzah

Nyanyian Mesir Purba (Karya Terjemahan) Kurnia kami, hari berbuahkan rahman, Berbungakan suka. Penghulu segala dewa! Marahlah tuan dan lihat. Urap dan menyan kami persembahkan Kusuma dan bakung pedandan leher Dinda tuan intan rupawan, Yang siuman dalam hatimu Yang merangkai pada sisimu. Marilah diri! Gambang dan dendang Merdu mengalun, Hari Duka Telah lenyap, sukacita bertabur ria, Sampai tuan tiba ke benua, yang diam semata-mata Lepaslah tuan dari kami selama-lamanya.

Puisi Nyanyian Jallaludin El Rumi - Amir Hamzah

Nyanyian Jallaludin El Rumi (Karya Terjemahan) Jangan disalahkan dunia karena belenggumu, Sebab banyakan mawar dari duri. Jangan disebutkan dunia ini penjara, Karena inginmu itulah yang membangunkan duka. Jangan pula tanyakan penghabisan rahasia, Satu dalam dua, atau baik, tau jahat! Usaha pula katakan kasih meninggalkan tuan, Jangan ia dicari di pekan dan jalan! Ta’ guna takutkan siksa mati, Sebab takut itulah mendatangkan sengsara, Janganlah buru kijang cita indria, Kalau terburu singa sesalan. Jangan hatiku, mengekang diri, Jadi ta’ usah malaikat menolong engkau.

Puisi Nyanyian Farid - Amir Hamzah

Nyanyian Farid (Karya Terjemahan )  Farid, jika manusia memukul senda Jangan memukul pula Cium kakinya Lalu … Dan lupa … Keduanya … Yang menjadikan terkandung Dalam segala yang dijadikan Dan yang dijadikan Tersimpul dalam yang menjadikan Bagaimana engkau berani Ya Farid, Menyumpah sesuatu yang buruk? Tiada ada melainkan Ia.

Puisi Nyanyian Kabir 2 - Amir Hamzah

Nyanyian Kabir 2 (Karya Terjemahan )  Ceritakan, undanku, kabaranmu kawi Dari mana datangmu? Kemana terbangmu? Di mana engkau berhenti melipat sayapmu? Pada siapa engkau nyanyikan laguan malammu? Kalau nanti pagi-pagi engkau terjaga, undanku Terbang, melayang tinggi dan ikut jalanku. Ikutkan daku ke negeri sana, mana susah dan was-was Tiada mungkin bernafas, dan maut, Malaikat hitam, tiada lagi memberi negeri Musim cuaca lagi membunga di pucuk kayu Harum panas ditebar angin sepoi: Aku di dalamnya, ia di dalamku. Kumbang hatiku menyelam dalam bunga Dan tiada berhasrat lagi

Puisi Nyanyian Kabir 1 - Amir Hamzah

Nyanyian Kabir 1 (Karya Terjemahan) Hatiku, hatiku, Sukma segala sukma Hatiku, hatiku, Guru segala guru Telah hampir Bangkit, bangkit hatiku dan kucup KakiNya Kaki Guru maha-raya, Supaya detikan cintamu Memenuhi seluruh Kaki Gurumu Tuan tidur, dari abad ke abad Jagalah, hatiku, jaga Pada subuh sentosa, Jika embun menyejuk rumput. Hendakkah tuan selalu bisu selaku batu, Hatiku, aduh hatiku?

Puisi Buah Rindu 4 - Amir Hamzah

Buah Rindu 4 Kalau kekanda duduk menyembah duli dewata mulia raya kanda pohonkan untung yang indah kepada tuan wahai adinda. Kanda puja dewa asmara merestui remaja adik kekanda hendaklah ia sepanjang masa mengasihi tuan intan kemala Anak busurnya kanda gantungi dengan seroja suntingan hauri badannya dewa kanda lengkapi dengan busur sedia di jari. Setelah itu kandapun puja dewata mulia di puncak angkasa memohonkan rahman beribu ganda ia tumpahkan kepada adinda. Tinggallah tuan tinggallah nyawa sepanjang hari segenap masa pikiran kanda hanyalah kemala dilindungi Tuhan Maha Kuasa. Baik-baik adindaku tinggal aduhai kekasih emas tempawan kasih kanda demi Allah kekal kepada tuan emas rayuan..... Kalau mega berarak lalu bayu berhembus sepoi basah ingatlah tuan kanda merayu mengenangkan nasib salah tarah. Kalau hujang turun rintik laksana air mata jatuh mengalir itulah kanda teringatkan adik duduk termenung berhati khuatir.

Puisi Buah Rindu 3 - Amir Hamzah

Buah Rindu 3 Puspa cempaka konon kirimkan pada arus lari ke laut akan duta kanda jadikan pada adinda kasih terpaut. Teja bunga seroja dalam taman kemala hijau di atas mahkota orang berikan pada kekanda tiada kuambil kerana tuan. Adakah gemerlapan bagi kemala adakah harum lagi seroja pada beta tumpuan duka sebab tuan lalu mengembara. Tuan lalu tiada berkata haram sepatah sepantun duli kanda tinggal sepenuh wangsangka pilu belas di dalam hati. Hatiku rindu bukan kepalang dendam beralik berulang-ulang air mata bercucur selang-menyelang mengenangkan adik kekasih abang. Diriku lemah anggotaku layu rasakan cinta bertalu-talu kalau begini datangnya selalu tentunya kekanda berpulang dahulu. Tinggalah tuan, tinggalah nyawa tinggal juita tajuk mahkota kanda lalu menghadap "dewata" bertelut di bawah cerpu Maulana. Kanda pohonkan tuan selamat ke bawah kaus dewata rahmat moga-moga tuan hendaklah mendapat kesukaan hidup ganda berlipat.

Puisi Buah Rindu 2 - Amir Hamzah

Buah Rindu 2 Datanglah engkau wahai maut Lepaskan aku dan nestapa Engkau lagi tempatku berpaut Di waktu ini gelap gulita. Kicau murai tiada merdu Pada beta bujang Melayu Himbau pungguk tiada merindu Dalam telingaku seperti dahulu. Tuan aduhai mega berarak Yang melipud dewangga raya Berhentilah tuan di atas teratak Anak Langkat musyafir lata. Sesa'at sekejap mata beta berpesan Padamu tuan aduhai awan Arah manatah tuan berjalan Di negeri manatah tuan bertahan? Sampaikan rinduku pada adinda Bisikkan rayuanku pada juita Liputi lututnya muda kencana Serupa beta memeluk dia. Ibu, konon jauh tanah Selindung Tempat gadis duduk berjuntai Bonda hajat hati memeluk gunung apatah daya tangan ta' sampai. Elang, Rajawali burung angkasa Turunlah tuan barang sementara Beta bertanya sepatah kata Adakah tuan melihat adinda? Mega telahku sapa Margasatwa telahku tanya Maut telahku puja Tetapi adinda manatah dia !

Puisi Buah Rindu 1 - Amir Hamzah

Buah Rindu 1 Dikau sambur limbur pada senja dikau alkamar purnama raya asalkan kanda bergurau senda dengan adinda tajuk mahkota. Dituan rama-rama melayang didinda dendang sayang asalkan kandaa selang-menyelang melihat adinda kekasih abang. Ibu, seruku ini laksana pemburu memikat perkutut di pohon ru sepantun swara laguan rindu menangisi kelana berhati mutu. Kelana jauh duduk merantau di balik gunung dewala hijau di Seberang laut cermin silau Tanah Jawa mahkota pulau... Buah kenanganku entah ke mana lalu mengembara ke sini sana haram berkata sepatah jua ia lalu meninggalkan beta. ibu, lihatlah anakmu muda belia setiap waktu sepanjang masa duduk termenung berhati duka laksana Asmara kehilangan seroja. Bonda waktu tuan melahirkan beta pada subuh kembang cempaka adakah ibu menaruh sangka bahawa begini peminta anakda? Wah kalau begini naga-naganya kayu basah dimakan api aduh kalau begini laku rupanya tentulah badan lekaslah fani.

Puisi Bonda 1 - Amir Hamzah

Bonda 1 Dalam sepu angin malam dalam gerak daun segala dalam angguk mawar kusuma bonda kulihat duduk bercinta Dalam tepuk air di batu dalam buai puncak kelapa dalam bisik kumbang menyeri bonda kudengar memanggil anaknda. Pelangi membangun laksana perahu awan berarak behtera ditiru bintang bertabur jempena serupa bonda kulihat duduk beriba. Di dalam paya kumuda kembang di atas tampuk embun bergantung di dalam permata bonda terpandang duduk menangis menyesal untung. "Buah hati jauh permainan mata hendak diseru suara tak daya hendak dipanggil kuasa taala duduklah bonda berhati iba... hati di dalam berseru-seru mohonkan restu Tuhan suatu moga bertemu sejurus lalu dengan dikau bijimataku" Wah bonda bagaimana menyeru gelombang Melaka umpama gelora, aduh bonda, mengapa merestu awan tebal laksana dewala. Bunga mawar putih setangkai anakda petik di kaki wilis di atas bumi Jawa raya akan penunggu telakapkan bonda.

Puisi Bonda 2 - Amir Hamzah

Bonda 2 Batu sungai terserak putih bintang bertabur gemerlapan cahaya dipalut pualam pelangi persih peraduan ibu melepaskan duka Pohon kemboja tunduk temungkul memayungi ibu beradu cendera kusuma terapung tenggelam timbul di atas lautan angin daksina. Harum bunga melenakan ibu sepoi angin mengulikkan bonda patikpun tunduk berhati mutu hendakpun menyepa tiada kuasa. Dari jauh suara melambai rasa bonda datang menegur di atas awan duduk serangkai dengan bintang angsoka hablur. Bunga rampai di atas rimba air selabu di pangkuan dinda kami menangis tiada berasa terkenangkan ibu beradu cendera. Bunga mawar bunga cempaka bunga melur aneka warna dipetik dinda di halaman kita akan penyapu telapakan bonda. Air selabu patik bawakan dari perigi dipagari batu pada bonda kami sembahkan akan pencuci telapakan ibu.