Posts

Showing posts from April, 2018

Puisi Hidup - Soe Hok Gie

Hidup Terasa pendeknya hidup memandang sejarah Tapi terasa panjangnya karena derita Maut, tempat penghentian terakhir Nikmat datangnya dan selalu diberi salam

Puisi Tentang Kemerdekaan - Soe Hok Gie

Tentang Kemerdekaan Kita semua adalah orang yang berjalan dalam barisan Yang tak pernah berakhir, Kebetulan kau baris di muka dan aku di tengah Dan adik-adikku di belakang Tapi satu tugas kita semua, Menanamkan benih-benih kejantanan yang telah kau rintis…. Kita semua adalah alat dari arus sejarah yang besar Kita adalah alat dari derap kemajuan samua; Dan dalam berjuang kemerdekaan begitu mesra berdegup Seperti juga perjalanan di sisi penjara Kemerdekaan bukanlah soal orang-orang yang iseng dan pembosan Kemerdekaan adalah keberanian untuk berjuang Dalam derapnya, dalam desasnya, dalam raungnya kita Adalah manusia merdeka Dalam matinya kita smua adalah Manusia terbebas.

Puisi Kepada Pejuang-Pejuang Lama - Soe Hok Gie

Kepada Pejuang-Pejuang Lama Biarlah mereka yang ingin dapat mobil, mendapatnya. Biarlah mereka yang ingin dapat rumah, mengambilnya. Dan datanglah kau manusia-manusia Yang dahulu menolak, karena takut ataupun ragu. Dan kita, para pejuang lama Yang telah membawa kapal ini keluar dari badai Yang berani menempuh gelombang (padahal pelaut-pelaut lain takut) (kau tentu masih ingat suara-suara dibelakang…”mereka gila”) Hai, kawan-kawan pejuang lama Angkat beban-beban tua, sandal-sandal kita, sepeda-sepeda kita Buku-buku kita ataupun sisa-sisa makanan kita Dan tinggalkan kenangan-kenangan dan kejujuran kita Mungkin kita ragu sebentar (ya, kita yang dahulu membina Kapal tua ini Di tengah gelombang, ya kita betah dan cinta padanya) Tempat kita, petualang-petualang masa depan akan Pemberontak-pemberontak rakyat Di sana… Di tengah rakyat, membina kapal-kapal baru untuk tempuh Gelombang baru. Ayo, mari kita tinggalkan kapal ini Biarlah mereka yang ingin pangkat menjabatnya ...

Puisi Cita-Cita - Soe Hok Gie

Cita-Cita Saya mimpi tentang sebuah dunia Dimana ulama, buruh, dan pemuda, Bangkit dan berkata, “Stop semua kemunafikan! Semua pembunuhan atas nama apapun!” Dan para politisi di PBB sibuk mengatur pengangkutan gandum, beras, dan susu Buat anak-anak yang lapar di tiga benua Dan lupa akan diplomasi Tak ada lagi rasa benci pada siapapun, agama apapun, ras dan bangsa apapun Dan melupakan perang dan kebencian Dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik Tuhan, saya mimpi tentang dunia tadi Yang tak pernah akan datang Salem, Selasa, 29 Oktober 1968

Puisi Cinta - Soe Hok Gie

Cinta Ada orang yang menghabiskan waktunya untuk berziarah ke Mekkah Ada orang yang menghabiskan waktunya untuk berjudi di Miraza Tapi aku ingin habiskan waktuku disisimu, sayangku Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu, Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandalawangi Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra Tapi aku ingin mati disisimu, manisku Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tau Mari sini, sayangku Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik, dan simpati padaku Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung Kita tak pernah menanam apa-apa Kita tak pernah kehilangan apa-apa Selasa, 11 November 1969

Puisi Pesan - Soe Hok Gie

Pesan Hari ini aku lihat kembali Wajah-wajah halus yang keras Yang berbicara tentang kemerdekaaan Dan demokrasi Dan bercita-cita Menggulingkan tiran Aku mengenali mereka yang tanpa tentara mau berperang melawan diktator dan yang tanpa uang mau memberantas korupsi Kawan-kawan Kuberikan padamu cintaku Dan maukah kau berjabat tangan Selalu dalam hidup ini? Harian Sinar Harapan 18 Agustus 1973

Puisi Sebuah Tanya - Soe Hok Gie

Sebuah Tanya “akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui apakah kau masih berbicara selembut dahulu? memintaku minum susu dan tidur yang lelap? sambil membenarkan letak leher kemejaku” (kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah mendala wangi kau dan aku tegak berdiri, melihat hutan-hutan yang menjadi suram meresapi belaian angin yang menjadi dingin) “apakah kau masih membelaiku semesra dahulu ketika ku dekap kau, dekaplah lebih mesra, lebih dekat” (lampu-lampu berkelipan di jakarta yang sepi, kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya. kau dan aku berbicara. tanpa kata, tanpa suara ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita) “apakah kau masih akan berkata, kudengar derap jantungmu. kita begitu berbeda dalam semua kecuali dalam cinta?” (haripun menjadi malam, kulihat semuanya menjadi muram. wajah2 yang tidak kita kenal berbicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti. seperti kab...

Puisi Mandalawangi-Pangrango - Soe Hok Gie

Mandalawangi-Pangrango Senja ini, ketika matahari turun kedalam jurang2mu aku datang kembali kedalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan dan aku terima kau dalam keberadaanmu seperti kau terima daku aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada hutanmu adalah misteri segala cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi Kau datang kembali Dan bicara padaku tentang kehampaan semua “hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya “tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar ‘terimalah dan hadapilah dan antara ransel2 kosong dan api unggun yang membara aku terima ini semua melampaui batas2 hutanmu, melampaui batas2 jurangmu aku cinta padamu Pangrango karena aku cinta pada keberanian hidup Jakarta 19-7-1966