Posts

Showing posts from June, 2017

Puisi Barbara di Pinggir Sungai Holland - Sitor Situmorang

Barbara di Pinggir Sungai Holland Tak tahu lagi sungainya: Waal, Maas atau bernama Rijn. Kapal barang kosong – angan ikut mudik ke jantung Eropanya, berpapasan kapal sarat muatan – hatinya – bersamaku hilir bermuara di samudra kembara Atlantik berpadu Pasifik hidup yang dihidupi sejauh tualang musim yang diselami sedalam rindunya.

Puisi Catatan Ruth Pada Tiap Perawan - Sitor Situmorang

Catatan Ruth Pada Tiap Perawan Ke mana kau pergi, ke sana aku pergi, Di mana kau tinggal, di sana aku tinggal Bangsamu akan menjadi bangsaku, Tuhanmu akan menjadi Tuhanku. Aku daging dari dagingmu, Hidup seia-sekata, dalam suka dan duka, Tetap bersama kecuali ajal memisah – Ku-iakan Tuanku, demi perintah Allah. Hujan dan matahari, musim akan berganti. Kasihku akan kekal. Siang dan malam, tahun-tahun pun berganti. Rambutku saja yang berubah. Harta? Lihatlah burung di langit Tak kurang suatu apa. Padanya Tuhan tak lupa. Pandanglah bunga, tumbuh di ladang. Demikianlah kita, dari kasih Allah akan dapat pahala.

Puisi Weimar - Sitor Situmorang

Weimar sejuta pohon pinus menyebar harum bumi di dadanya yang mulus kucium sepenuh hati Goethe hanya kenangan di abad luar jangkauan Schiller sudah tiada tinggal musim bunga Mengorak dari tubuhnya sepanjang hari menghimbau cinta sepanjang malam hingga di pagi

Puisi Hari Menuai - Amir Hamzah

Hari Menuai Lamanya sudah tiada bertemu tiada kedengaran suatu apa tiada tempat duduk bertanya tiada teman kawan berberita Lipu aku diharu sendu samar sapur cuaca mata sesak sempit gelanggang dada senak terhentak raga kecewa Hibuk mengamuk hati tergari melolong meraung menyentak rentak membuang merangsang segala petua tiada percaya pada siapa Kutilik diriku kuselam tahunku timbul terasa terpancar terang istiwa lama merekah terang merona rawan membunga sedan Tahu aku kini hari menuai api mengetam ancam membelam redam ditulis dilukis jari tanganku.

Puisi Turun Kembali - Amir Hamzah

Turun Kembali Kalau aku dalam engkau dan kau dalam aku adakah begini jadinya jaku hamba engkau penghulu ? Aku dan engkau berlainan engkau raja, maha raya cahaya halus tinggi mengawang pohon rindang menaung dunia. Di bawah teduh engkau kembangkan taku berdiri memati hari pada bayang engkau mainkan aku melipur meriang hati Diterangi cahaya engkau sinarkan aku menaiki tangga, mengawan kecapi firdausi melena telinga menyentuh gambuh dalam hatiku Terlihat ke bawah kandil kemerlap melambai cempaka ramai tertawa hati duniawi melambung tinggi berpaling aku turun kembali.

Puisi Astana Rela - Amir Hamzah

Astana Rela Tiada bersua dalam dunia tiada mengapa hatiku sayang tiada dunia tempat selama layangkan angan meninggi awan Jangan percaya hembusan cedera berkata tiada hanya dunia tilikkan tajam mata kepala sungkumkan sujud hati sanubari Mula segala tiada ada pertengahan masa kita bersua ketika tiga bercerai ramai di waktu tertentu berpandang terang Kalau kekasihmu hasratkan dikau restu sempana memangku daku tiba masa kita berdua berkaca bahagia di air mengalir Bersama kita mematah buah sempana kerja di muka dunia bunga cerca melayu lipu hanya bahagia tersenyum harum Di situ baru kita berdua sama merasa, sama membaca tulisan cuaca rangkaian mutiara di mahkota gapura astana rela.

Puisi Ibuku Dehulu - Amir Hamzah

Ibuku Dehulu Ibuku dehulu marah padaku diam ia tiada berkata akupun lalu merajuk pilu tiada peduli apa terjadi matanya terus mengawas daku walaupun bibirnya tiada bergerak mukanya masam menahan sedan hatinya pedih kerana lakuku Terus aku berkesal hati menurutkan setan, mengkacau-balau jurang celaka terpandang di muka kusongsong juga - biar chedera Bangkit ibu dipegangnya aku dirangkumnya segera dikucupnya serta dahiku berapi pancaran neraka sejuk sentosa turun ke kalbu Demikian engkau; ibu, bapa, kekasih pula berpadu satu dalam dirimu mengawas daku dalam dunia.

Puisi Teluk Jayakatera - Amir Hamzah

Teluk Jayakatera Ombak memecah di tepi pantai angin berhembus lemah lembut puncak kelapa melambai-lambai di ruang angkasa awan bergelut. Burung terbang melayang-layang serunai berseru "adikku sayang" perikan bernyanyi berimbang-imbang laut harungan hijau terbentang. Asap kapal bergumpal-gumpal melayari tasik lautan jawa beta duduk berhati kesal melihat perahu menuju Semudera. Musafir tinggal di tanah Jawa seorang diri sebatang kara hati susah tiada terkata tidur sekali haram cendera. Fikiranku melayang entah ke mana sekali ke timur sekali ke utara mataku memandang jauh ke sana di pertemuan air dengan angkasa. Di hadapanku hutan umurnya muda tempat ashik bertemu mata tempat ma'shuk melagukan cinta tempat bibir menyatukan anggota. Fikiran lampau datang kembali menggoda kalbu menyusahkan hati mengintagkan untung tiada seperti Yayi lalu membawa diri. Ombak mengempas ke atas batu bayu merayu menjauhka...

Puisi Perhitungan Buat Rivai Apin - Sitor Situmorang

Perhitungan Buat Rivai Apin Sudah lama tidak ada puncak dan lembah Masa lempang-diam menyerah dan kau tahu di ujung kuburan menunggu kesepian Aku belum juga rela berkemas Manusia, mengapa malam bisa tiba-tiba menekan dada? Sedang rohnya masih mengembara di lorong-lorong Keyakinan dulu manusia bisa hidup dan dicintai habis-habisan Belum tahu setinggi untung bila bisa menggali kuburan sendiri Rebutlah dunia sendiri dan pisahkan segala yamg melekat lemah Kita akan membubung ke langit menjadi bintang jernih sonder debu Detik kata jadikan abad-abad Abad-abad kita hidupi dalam sekilas bintang Sesudah itu malam, biarlah malam Bila hidup menolak Ia kita tinggalkan seperti anak yang terpaksa puas dengan boneka Mereka akan menari dan menyanyi terus Tapi tak ada lagi kita Sedang mereka rindu pada cinta garang Mereka akan menari dan menyanyi terus Tentang abad dan detik yang ‘lah terbenam Bersama kita, tarian perawan janda

Puisi Dia dan Aku - Sitor Situmorang

Dia dan Aku Akankah kita bercinta dalam kealpaan semesta? - Bukankah udara penuh hampa ingin harga? - Mari, Dik, dekatkan hatimu pada api ini Tapi jangan sampai terbakar sekali Akankah kita utamakan percakapan begini? - Bukankah bumi penuh suara inginkan isi? - Mari, Dik, dekatkan bibirmu pada bisikan hati Tapi jangan sampai megap napas bernyanyi Bukankah dada hamparkan warna Di pelaminan musim silih berganti Padamu jua kelupaan dan janji Akan kepermainan rahasia Permainan cumbu-dendam silih berganti Kemasygulan tangkap dan lari

Puisi Danau Toba - Sitor Situmorang

Danau Toba Aku rindu pada bahagia anak, Yang menunggu bapaknya pulang, Dari gunung membawa puput, Sepotong bambu tumbuh di paya-paya. Pada perahu tiba-tiba muncul sore, Dari balik tanjung di teluk danau, Membawa Ibu dari pekan, Dengan oleh-oleh kue beras bergula merah. Aku rindu pada malam berbulan, Kala si tua dan si anak mandi sinar purnama, Berkaca di permukaan danau biru – Sebelum air mengelucak di musim kemarau Aku rindu pada bunyi seruling gembala, Bergema di bukit memenuhi lembah, Pada permainan di gua-gua batu penuh lebah, Kala api panen mengusik hewan di tengah sawah. Aku rindu. Aku rindu pada tebing hijau, Tempat ikan emas bercengkerama, Di antara lumut menggeliat bening, Seperti taman zambrut dalam impian. Aku rindu pada batu-batu besar dan hitam, Muntahan lahar dari perut bumi, Pada pemandangan tua ribuan tahun, Si gembala domba, termenung di atas batu. Aku rindu bau-bau di musim panen, Gelak s...

Puisi Di Dalam Kelam - Amir Hamzah

Di Dalam Kelam Kembali lagi marak-semarak jilat melonjak api penyuci dalam hatiku tumbuh jahanam terbuka neraka di lapangan swarga Api melambai melengkung lurus merunta ria melidah belah menghangus debu mengitam belam buah tenaga bunga suwarga Hati firdausi segera sentosa Murtad merentak melaut topan Naik kabut mengarang awan menghalang cuaca nokta utama Berjalan aku di dalam kelam terus lurus moal berhenti jantung dilebur dalam jahanam kerongkong hangus kering peteri. Meminta aku kekasihku sayang; turunkan hujan embun rahmatmu biar padam api membelam semoga pulih pokok percayaku.

Puisi Condition - Sitor Situmorang

Condition Kami telah berharap dengan kehangatan tunas di musim hujan, dan bila kami kecewa seperti anak, tidak pun karena kebohongan lagi, hanya karena ketiadakamanan kata, perumus ingin berhubungan dalam balutan pengertian. Juga perpisahan tiada lagi menyedihkan sejak mati sendiri tak mematikan rindu, ya, rindulah nafas yang menguap dari segala yang kami belai atau hancurkan, sejak kami melepaskan hak merasa asing di pembuangan,sejak pembuangan itu saja Yang merasakan raut senja dan fajar benda yang dilupakan dan memberati diri....

Puisi Kaliurang (Tengah Hari) - Sitor Situmorang

Kaliurang (Tengah Hari) Kembali kita berhadapan Dalam relung sepi ini Dari seberang lembah mati Bibirmu berkata lagi Napasmu mengelus jiwaku Tersingkap kabut Dataran Dan kutahu di tepi selatan Laut ‘manggil aku berlayar dari sini Tungguhlah aku akan datang Biar kelam datang kembali Dengan angin malam aku bertolak Ke negeri, kabut tidak mengabur pandang Mati, berarti kita akan bersatu lagi.

Puisi Jakarta 17 Agustus 45 Dinihari - Sitor Situmorang

Jakarta 17 Agustus 45 Dinihari Sederhana dan murni Impian remaja Hikmah kehidupan berNusa berBangsa berBahasa Kewajaran napas dan degub jantung Keserasian beralam dan bertujuan Lama didambakan menjadi kenyataan wajar, bebas seperti embun seperti sinar matahari menerangi bumi di hari pagi Kemanusiaan Indonesia Merdeka 17 Agustus 1945

Puisi Senja di Desa - Sitor Situmorang

Senja di Desa Buat Bakri + Banda Senja di desa-desa Antara kampung-kampung dan matahari dijunjung gadis-gadis remaja: Periuk bundar-bundar tanah liat terbakar tempaan tukang tua matahari senja. Antara sumber air dan gerbang perkampungan terlena jalan pasir pulang dari pancuran ... gadis-gadis remaja Bulan di kepalanya.

Puisi Nama dan Pertanda - Sitor Situmorang

Nama dan Pertanda Dari anakku kuambil nama, Dari istriku kuambil cinta, Bagiku jadi pertanda, Bagiku jadi manna. Manna yang memberi hidup, Pertanda yang menyuluh jalan, Sepanjang malam pengembaraan, Hidup tak menemukan tujuan. Di padang pasir kutemukan lagi, -- Pulang dari pembuangan – Menuju lembah – telah dijanji, Seperti Israel menuju Kanaan. Ke sana aku pulang segera, Menemui sanak saudara sejati, Lepas dari perbudakan manusia, Menuju kebebasan kasih murni. Telah nampak bukit dan hutan, Negeri kerinduan di tepi langit, Melambai dari seberang dengan tangan, Fajar di atas air menggamit. Pertanda telah menuntun jalanku, Manna di gurun menuntun hidupku, Anakku telah memberi aku manna, Ibunya telah memberi aku cinta.

Puisi Surat Kertas Hijau - Sitor Situmorang

Surat Kertas Hijau Segala kedaraannya tersaji hijau muda Melayang di lembaran surat musim bunga Berita dari jauh Sebelum kapal angkat sauh Segala kemontokan menonjol di kata-kata Menepis dalam kelakar sonder dusta Harum anak dara mengimbau dari seberang benua Mari, Dik, tak lama hidup ini Semusim dan semusim lagi Burung pun berpulangan Mari, Dik, kekal bisa semua ini Peluk goreskan di tempat ini Sebelum kapal dirapatkana

Puisi Lereng Merapi - Sitor Situmorang

Lereng Merapi Kutahu sudah, sebelum pergi dari sini Aku Akan rindu balik pada semua ini Sunyi yang kutakuti sekarang Rona lereng gunung menguap Pada cerita cemara berdesir Sedu cinta penyair Rindu pada elusan mimpi Pencipta candi Prambanan Mengalun kemari dari dataran …. Dan sekarang aku mengerti Juga di sunyi gunung Jauh dari ombak menggulung Dalam hati manusia sendiri Ombak lautan rindu Semakin nyaring menderu

Puisi Batu Belah - Amir Hamzah

Batu Belah Dalam rimba rumah sebuah teratak bambu terlampau tua angin menyusup di lubang tepas bergulung naik di sudut sunyi. Kayu tua membetul tinggi membukak puncak jauh di atas bagai perarakan melintas negeri payung menaung jemala raja ibu bapa beranak seorang manja bena terada-ada plagu lagak tiada disangkak mana tempat ibu meminta Telur kemahang minta carikan untuk lauk di nasi sejuk Tiada sayang; dalam rimba telur kemahang mana daya ibu mencari mana tempat ibu meminta. Anak lasak mengisak panjang menyabak merunta mengguling diri kasihan ibu berhancur hati lemah jiwa kerana cinta Dengar.........dengar ! dari jauh suara sayup mengalun sampai memecah sepi menyata rupa mengasing kata Rang... rang... rangkup Rang... rang... rangkup batu belah batu bertangkup ngeri berbunyi berganda kali. Diam ibu berfikir panjang lupa anak menangis hampir kalau begini susahnya hidup biar ditelan batu bertangkup ...

Puisi Jalan Batu ke Danau - Sitor Situmorang

Jalan Batu ke Danau Lewat Tarutung dan Siantar ada dua jalan baru menuju danau Aku tahu Lewat Tarutung dan Siantar ada dua jalan batu menuju kau Aku tahu Dari Taruntung dan Siantar ada dua jalan rantau ke pangkuanmu Aku lalu Dari Taruntung dan Siantar ada dua jalan rindu Teringat kau Aku tak tahu

Puisi Insaf - Amir Hamzah

Insaf Segala kupinta tiada kauberi segala kutanya tiada kausahuti butalah aku terdiri sendiri penuntun tiada memimpin jari Maju mundur tiada terdaya sempit bumi dunia raya runtuh ripuk astana cuaca kureka gembira di lapangan dada Buta tuli bisu kelu tertahan aku di muka dewala tertegun aku di jalan buntu tertebas putus sutera sempana Besar benar salah arahku hampir tertahan tumpah berkahmu hampir tertutup pintu restu gapura rahsia jalan bertemu Insaf diriku dera durhaka gugur tersungkur merenang mata; samar terdengar suwara suwarni sapur melipur merindu temu. Insaf aku bukan ini perbuatan kekasihku tiada mungkin reka tangannya kerana cinta tiada mendera

Puisi Kebun Binatang - Sitor Situmorang

Kebun Binatang Kembang, boneka dan kehidupan Kembang, boneka dan kerinduan Si adik ini ingin teman Si anak ini punya ketakutan Hari-hari kemarin Punya keinginan Berumah ufuk, ombak menggulung Hari-hari kandungan Tolak keisengan Ramai-ramai di kebun binatang Kembang, boneka dan kehidupan Kembang dan kerinduan Si adik ini ingin teman Boneka ini punya kesayuan Hari-hari datang Hari kembang di kebun binatang Hari bersenang Pecah dalam balonan Kembang, boneka dan kehidupan Kembang dan kerinduan Si adik ini ingin teman Boneka ini punya kesayuan

Puisi Duka - Sitor Situmorang

Duka kepada Chairil Anwar manakah lebih sedih? nenek terhuyung tersenyum jelma sepi abadi takkan bertukar rupa atau petualang muda sendiri? gapaian rindu tersia-sia tak sanggup hidup rukun antara anak minta ditayang sekali akan tiba juga takkan ada gerbang membuka hanya jalan merentang sungguh sayang cinta sia-sia manakah lebih sedih? nenek terhuyung tersenyum atau petualang mati muda mengumur duka telah dinujum

Puisi Doa Poyangku - Amir Hamzah

Doa Poyangku Poyangku rata meminta sama semoga sekali aku diberi memetik kecapi, kecapi firdausi menampar rebana, rebana swarga Poyangku rata semua semata penabuh bunyian kerana suara suara sunyi suling keramat kini rebana di celah jariku  tari tamparku membangkit rindu kucuba serentak genta genderang memuji kekasihku di mercu lagu Aduh, kasihan hatiku sayang alahai hatiku tiada bahagia jari menari doa semata tapi hatiku bercabang dua.

Puisi Taman Dunia - Amir Hamzah

Taman Dunia Kau masukkan aku ke dalam taman- dunia, kekasihku ! kaupimpin jariku, kautunjukkan bunga tertawa, kuntum tersenyum. kau tundukkan huluku tegak, mencium wangi tersembunyi sepi. Kau gemalaikan di pipiku rindu daun beldu melunak lemah. Tercengang aku takjob, terdiam. berbisik engkau:  "Taman swarga, taman swarga mutiara rupa". Engkaupun lenyap. Termanggu aku gilakan rupa.

Puisi Terbuka Bunga - Amir Hamzah

Terbuka Bunga Terbuka bunga dalam hatiku ! kembang rindang disentuh bibir kesturimu. Melayah-layah mengintip restu senyumanmu. Dengan mengelopaknya bunga ini, layulah bunga lampau, kekasihku. Bunga sunting hatiku, dalam masa mengembara  menanda dikau Kekasihku ! inikah bunga sejati yang tiadakan layu ?

Puisi Dalam Diriku - Sapardi Djoko Damono

Dalam Diriku Dalam diriku mengalir sungai panjang, Darah namanya; Dalam diriku menggenang telaga darah, Sukma namanya; Dalam diriku meriak gelombang sukma, Hidup namanya! Dan karena hidup itu indah, Aku menangis sepuas-puasnya (1980) Tiba-Tiba Malam pun risik tiba-tiba malam pun risik beribu Bisik tiba-tiba engkau pun lengkap menerima satu-satunya Duka

Puisi Subuh - Amir Hamzah

Subuh Kalau subuh kedengaran tabuh semua sepi sunyi sekali bulan seorang tertawa terang bintang mutiara bermain cahaya Terjaga aku tersentak duduk terdengar irama panggilan jaya naik gembira meremang roma terlihat panji terkibar di muka Seketika teralpa; masuk bisik hembusan setan meredakan darah debur gemuruh menjatuhkan kelopak mata terbuka Terbaring badanku tiada berkuasa tertutup mataku berat semata terbuka layar gelanggang angan terulik hatiku di dalam kelam Tetapi hatiku, hatiku kecil tiada terlayang di awang dendang menanggis ia bersuara seni ibakan panji tiada terdiri.

Puisi Sajak Seorang Tua untuk Isterinya - W.S. Rendra

Sajak Seorang Tua untuk Isterinya Aku tulis sajak ini untuk menghibur hatimu Sementara kau kenangkan encokmu kenangkanlah pula masa remaja kita yang gemilang Dan juga masa depan kita yang hampir rampung dan dengan lega akan kita lunaskan. Kita tidaklah sendiri dan terasing dengan nasib kita Kerna soalnya adalah hukum sejarah kehidupan. Suka duka kita bukanlah istimewa kerna setiap orang mengalaminya. Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh Hidup adalah untuk mengolah hidup bekerja membalik tanah memasuki rahasia langit dan samodra, serta mencipta dan mengukir dunia. Kita menyandang tugas, kerna tugas adalah tugas. Bukannya demi sorga atau neraka. Tetapi demi kehormatan seorang manusia. Kerna sesungguhnyalah kita bukan debu meski kita telah reyot, tua renta dan kelabu. Kita adalah kepribadian dan harga kita adalah kehormatan kita. Tolehlah lagi ke belakang ke masa silam yang tak seorangpun kuasa menghapusnya. Lihatlah betapa tahun-tahun kita penuh warna. Sembilan pul...

Puisi Berpalinglah Kiranya - W.S. Rendra

Berpalinglah Kiranya Berpalinglah kiranya mengapa tiada kunjung juga? muka dengan parit-parit yang kelam mata dan nyala neraka. Larut malam hari mukanya larut malam hari hatiku jadinya, mengembang-ngembang juga rasa salah jiwa. Dosa-dosa lalu-lalang merah-hitam memejam-mejam mata-mata ini di dunia. Berpalinglah kiranya mengapa tiada kunjung juga? Kaca-kaca gaib menghitam air kopi hitam. Biji-biji mata di rongganya memantulkan dosa-dosa seolah-olah dosa itu aku yang punya. Padaku memang ada apa-apa. Cuma tidak semua baginya, tidak juga ‘kan menolongnya. Pergi kiranya, pergi! Mampus atau musna; Jahatlah itu minta dan terus minta. Terasa seoalh aku jadi punya dosa. Bukan sanak, bukan saudara. Lepaslah kiranya ini siksa. Aku selalu mau beri tak usah diminta Tapi ia minta dan minta saja dan itu siksa. Berpalinglah kiranya mengapa tiada kunjung juga?

Puisi Remang-Remang - W.S. Rendra

Remang-Remang Di jalan remang-remang ada bayangan remang-remang aku bimbang apa kabut apa orang. Di langit remang-remang ada satu mata kelabu aku bimbang apa cinta apa dendam menungguku. Di padang remang-remang ada kesunyian tanpa hati aku bimbang malam ini siapa bakal mati. Di udara remang-remang ada pengkhianatan membayang selalu. Wahai, betapa remang-remangnya jalan panjang di hatiku.

Puisi Rumpun Alang-Alang - W.S. Rendra

Rumpun Alang-Alang Engkaulah perempuan terkasih, yang sejenak kulupakan, sayang Kerna dalam sepi yang jahat tumbuh alang-alang di hatiku yang malang Di hatiku alang-alang menancapkan akar-akarnya yang gatal Serumpun alang-alang gelap, lembut dan nakal Gelap dan bergoyang ia dan ia pun berbunga dosa Engkau tetap yang punya tapi alang-alang tumbuh di dada

Puisi Tahanan - W.S. Rendra

Tahanan Atas ranjang batu tubuhnya panjang bukit barisan tanpa bulan kabur dan liat dengan mata sepikan terali Di lorong-lorong jantung matanya para pemuda bertangan merah serdadu-serdadu Belanda rebah Di mulutnya menetes lewat mimpi darah di cawan tembikar dijelmakan satu senyum barat di perut gunung (Para pemuda bertangan merah adik lelaki neruskan dendam) Dini hari bernyanyi di luar dirinya Anak lonceng menggeliat enam kali di perut ibunya Mendadak dipejamkan matanya Sipir memutar kunci selnya dan berkata -He, pemberontak hari yang berikut bukan milikmu ! Diseret di muka peleton algojo ia meludah tapi tak dikatakannya -Semalam kucicip sudah betapa lezatnya madu darah. Dan tak pernah didengarnya enam pucuk senapan meletus bersama Kisah Th VI, No 11 Nopember 1956

Puisi Orang-Orang Miskin - W.S. Rendra

Orang-Orang Miskin Orang-orang miskin di jalan, yang tinggal di dalam selokan, yang kalah di dalam pergulatan, yang diledek oleh impian, janganlah mereka ditinggalkan. Angin membawa bau baju mereka. Rambut mereka melekat di bulan purnama. Wanita-wanita bunting berbaris di cakrawala, mengandung buah jalan raya. Orang-orang miskin. Orang-orang berdosa. Bayi gelap dalam batin. Rumput dan lumut jalan raya. Tak bisa kamu abaikan. Bila kamu remehkan mereka, di jalan kamu akan diburu bayangan. Tidurmu akan penuh igauan, dan bahasa anak-anakmu sukar kamu terka. Jangan kamu bilang negara ini kaya karena orang-orang berkembang di kota dan di desa. Jangan kamu bilang dirimu kaya bila tetanggamu memakan bangkai kucingnya. Lambang negara ini mestinya trompah dan blacu. Dan perlu diusulkan agar ketemu presiden tak perlu berdasi seperti Belanda. Dan tentara di jalan jangan bebas memukul mahasiswa. Orang-orang miskin di jalan masuk ke da...

Puisi Pamflet Cinta - W.S. Rendra

Pamflet Cinta Ma, nyamperin matahari dari satu sisi. Memandang wajahmu dari segenap jurusan. Aku menyaksikan zaman berjalan kalang-kabutan. Aku melihat waktu melaju melanda masyarakatku. Aku merindui wajahmu. Dan aku melihat wajah-wajah berdarah para mahasiswa. Kampus telah diserbu mobil berlapis baja. Kata-kata telah dilawan dengan senjata. Aku muak dengan gaya keamanan semacam ini. Kenapa keamanan justeru menciptakan ketakutan dan ketegangan. Sumber keamanan seharusnya hukum dan akal sihat. Keamanan yang berdasarkan senjata dan kekuasaan adalah penindasan. Suatu malam aku mandi di lautan. Sepi menjadi kaca. Bunga-bungaan yang ajaib bertebaran di langit. Aku inginkan kamu, tetapi kamu tidak ada. Sepi menjadi kaca. Apa yang bisa dilakukan oleh penyair Bila setiap kata telah dilawan dengan kekuasaan? Udara penuh rasa curiga. Tegur sapa tanpa jaminan. Air lautan berkilat-kilat. Suara lautan adalah suara kesepian Dan lalu muncul w...

Puisi Rajawali - W.S. Rendra

Rajawali Sebuah sangkar besi tidak bisa mengubah rajawali menjadi seekor burung nuri Rajawali adalah pacar langit dan di dalam sangkar besi rajawali merasa pasti bahwa langit akan selalu menanti Langit tanpa rajawali adalah keluasan dan kebebasan tanpa sukma tujuh langit, tujuh rajawali tujuh cakrawala, tujuh pengembara Rajawali terbang tinggi memasuki sepi memandang dunia rajawali di sangkar besi duduk bertapa mengolah hidupnya Hidup adalah merjan-merjan kemungkinan yang terjadi dari keringat matahari tanpa kemantapan hati rajawali mata kita hanya melihat matamorgana Rajawali terbang tinggi membela langit dengan setia dan ia akan mematuk kedua matamu wahai, kamu, pencemar langit yang durhaka

Puisi Nina Bobok Bagi Pengantin - W.S. Rendra

Nina Bobok Bagi Pengantin Awan bergoyang, pohonan bergoyang antara pohonan bergoyang malaikat membayang dari jauh bunyi merdu loceng loyang Sepi, syahdu, rindu candu rindu, ghairah kelabu rebahlah, sayang, rebahlah wajahmu ke dadaku Langit lembayung, pucuk-pucuk daun lembayung antara daunan lembayung bergantung hati yang ruyung dalam hawa bergulung mantera dan tenung Mimpi remaja, bulan kenangan duka cinta, duka berkilauan rebahlah sayang, rebahkan mimpimu ke dadaku Bumi berangkat tidur duka berangkat hancur aku tampung kau dalam pelukan tangan rindu Sepi dan tidur, tidur dan sepi sepi tanpa mati, tidur tanpa mati rebahlah sayang, rebahkan dukamu ke dadaku.

Puisi Tanpa Garam - W.S. Rendra

Tanpa Garam Aku telah berjalan antara orang-orang tak berdosa jemari lembut awan, airmata susu bunda. Telah datang anak putri langit tak berdosa lenggang gentayang putri lesi tanpa manja. Ah, kina dalam kuwe manisan! Kayumanis dan panili pengkhianatan! Lewatlah yang pucat, kuhindarkan cekikan. Kata alam tersekat dan menekan pingsan.

Puisi Matahari Minggu - Sitor Situmorang

Matahari Minggu Di hari Minggu di hari iseng Di silau matahari jalan berliku Kawan habis tujuan di tepi kota Di hari Minggu di hari iseng Bersandar pada dinding kota Kawan terima kebuntuan batas Di hari panas tak berwarna Seluruh damba dibawa jalan Di hari Minggu di hari iseng Bila pertemuan menambah damba Melingkar di jantung kota Ia merebah pada diri dan kepadatan hari Tidak menolak tidak terima

Puisi Dunia Leluhur - Sitor Situmorang

Dunia Leluhur Hutan jadi bayang-bayang roh leluhur merasuki tubuh kutanam bambu biar hangat kampung halaman daunnya hijau lebih hijau kala rimbun Ditenun angin roh bertengger di ubunubun mata tombak tertancap di dataran kurajut benang hidup waktu yang kulalui jejak pemburu di pegunungan burung di malam berbulan hidup dari sepi minum dari daun ilalang jadi jin jadi ijuk jadi tanah liat jadi batu jadi danau jadi angin tali dipintal titianku ke dunia sana

Puisi Berdiri Aku - Amir Hamzah

Berdiri Aku Berdiri aku di senja senyap Camar melayang menepis buih Melayah bakau mengurai puncak Berjulang datang ubur terkembang Angin pulang menyeduk bumi Menepuk teluk mengempas emas Lari ke gunung memuncak sunyi Berayun-ayun di atas alas. Benang raja mencelup ujung Naik marak mengerak corak Elang leka sayap tergulung dimabuk wama berarak-arak. Dalam rupa maha sempuma Rindu-sendu mengharu kalbu Ingin datang merasa sentosa Menyecap hidup bertentu tuju.

Puisi Doa - Amir Hamzah

Doa Dengan apakah kubandingkan pertemuan kita, kekasihku? Dengan senja samar sepoi, pada masa purnama meningkat naik, setelah menghalaukan panas payah terik. Angin malam mengembus lemah, menyejuk badan, melambung rasa menayang pikir, membawa angan ke bawah kursimu. Hatiku terang menerima katamu, bagai bintang memasang lilinnya. Kalbuku terbuka menunggu kasihmu, bagai sedap malam menyiarkan kelopak. Aduh, kekasihku, isi hatiku dengan katamu, penuhi dadaku dengan cahayamu, biar bersinar mataku sendu, biar berbinar gelakku rayu!

Puisi Nyanyian Mira - Bai - Amir Hamzah

Nyanyian Mira - Bai (Karya Terjemahan)  Pada kala aku mengambil air dari sungai Yamuna, Dipandang Krishna senda Dengan mataNya yang raya Tertawa bertanya Kendiku telungkup aku pun lalu Penuh heran dan ragu Semenjak itu semayam Ia dalam kalbuku Krishna berambut ikal. Hentikan segala mantera, jauhkan penawar semua Lepaskan aku dari akar dan jamu! Bawakan daku Krishna berambut hitam Bawakan daku Krishna bermata cuaca! Alisnya, busurnya – Pandangnya, panahnya Dibidiknya – lepaskan – tepat!

Puisi Padamu Jua - Amir Hamzah

Padamu Jua Habis kikis Segera cintaku hilang terbang Pulang kembali aku padamu Seperti dahulu Kaulah kandil kemerlap Pelita jendela di malam gelap Melambai pulang perlahan Sabar, setia selalu Satu kekasihku Aku manusia Rindu rasa Rindu rupa Di mana engkau Rupa tiada Suara sayup Hanya kata merangkai hati Engkau cemburu Engkau ganas Mangsa aku dalam cakarmu Bertukar tangkap dengan lepas Nanar aku, gila sasar Sayang berulang padamu jua Engkau pelik menarik ingin Serupa dara dibalik tirai Kasihmu sunyi Menunggu seorang diri Lalu waktu - bukan giliranku Matahari - bukan kawanku.

Puisi Hanyut Aku - Amir Hamzah

Hanyut Aku Hanyut aku, kekasihku! Hanyut aku! Ulurkan tanganmu, tolong aku. Sunyinya sekelilingku! Tiada suara kasihan, tiada angin mendingin hati, Tiada air menolak ngelak. Dahagaku kasihmu, hauskan bisikmu, Mati aku, sebabkan diammu. Langit menyerkap, air berlepas tangan, Aku tenggelam. Tenggelam dalam malam. Air di atas mendidih keras. Bumi di bawah menolak keatas. Mati aku, kekasihku, mati aku!

Puisi Mengawan - Amir Hamzah

Mengawan Rengang aku daripadaku, mengikut kawalku mengawan naik. Mewajah kebawah, terlentang aku, lemah lunak, Kotor terhampar, paduan benda empat perkara. Datang pikiran membentang kenang, Membunga cahaya cuaca lampau, Menjadi terang mengilau kaca. Lewat lambat aku dan dia, ria tertawa, bersedih suka, Berkasih pedih, bagai merpati bersambut mulut. Tersenyum sukma, kasihan serta. Benda mencintai benda … Naik aku mengawan rahman, mengikut kawalku membawa warta. Kuat, sayapku kuat, bawakan aku, biar sampai membidai-belai Celah tersentuh, di kursi kesturi.

Puisi Kamadewi - Amir Hamzah

Kamadewi Kembali pula engkau datang kepadaku di waktu sekarang tengah menjadi permainan gelombang gelombang terberai di bunga karang. Lah lama kau kulupakan lah lampau bagi kenangan lah lenyap dari pandangan Tetapi sekarang apatah mula apakah sebab, aduhai bonda ia datang menyusupi beta? Kau ganggu hati yang reda kau kacau air yang tenang kau jagakan dewi asmara kau biarkan air mata berlinang... O, asmara kau permainkan aku laguan kasih engkau bisikkan gendang kenangan engkau palu dari kelupaan aku, engkau sentakkan. Pujaan mana kau kehendaki persembahan mana kau ingini aduhai angkara Asmara dewi. Gelak sudah beta sembahkan cinta sudah tuan putuskan apatah lagi dewi harapkan pada beta duka sampaian... kamadewi! gendewamu bermalaikan seroja puadai padma seraga tetapi aku sepanjang masa duduk di atas hamparan duka! Kamadewi! tiadakah tuan bertanyakan nyawa?

Puisi Pantai - Sitor Situmorang

Pantai Pada F.P. Thomassen Ibu, telah kulihat pantai Telah kulihat laut pandai berkata-kata Telah kulihat kapal enggan berlayar Serta matahari bersinar Ibu, telah kulihat tubuh gadis mandi Jangan kau lagi berkata Kau mau beranak Telah kulihat pantai pasir Membujur dalam diri Putih sekali

Puisi Pendaratan Malam - Sitor Situmorang

Pendaratan Malam Tentara tak berbekal mendarat Di malam disuburkan lapar (Bila fajar bawa berita kayu apung istirahat mereka) Tentara tak berbekal mendarat Di malam disuburkan lapar

Puisi Senyum Hatiku, Senyum - Amir Hamzah

Senyum Hatiku, Senyum Senyum hatiku, senyum gelak hatiku, gelak dukamu tuan, aduhai kulum walaupun hatimu, rasakan retak. Benar mawar kembang melur mengirai kelopak anak dara duduk berdendang tetapi engkau, aduhai fakir, dikenang orang sekalipun tidak. Kuketahui, terkukursulang menyulang murai berkicau melagukan cinta tetapi engkau aduhai dagang umpamakan pungguk merayukan purnama. Sungguh matahari dirangkum segara purnama raya di lingkung bintang tetapi engkau, aduhai kelana siapa mengusap hatimu bimbang? Diam hatiku , diam cubakan ria, hatiku ria sedih tuan, cubalah pendam umpama disekam, api menyala. Mengapakah rama-rama boleh bersenda alun boleh mencium pantai tetapi beta makhluk utama duka dan cinta menjadi selampai ? Senyap, hatiku senyap adakah boleh engkau merana sudahlah ini nasip yang tetap engkau terima di pangkuan bonda.

Puisi Tuhanku Apatah Kekal - Amir Hamzah

Tuhanku Apatah Kekal Tuhanku , suka dan ria gelak dan senyum tepuk dan tari semuanya lenyap, silam sekali. Gelak bertukar duka suka bersalinkan ratap kasih beralih cinta cinta membawa wangsangka... Junjunganku apatah kekal apatah tetap apakah tak bersalin rupa apatah baka sepanjang masa... Bunga layu disinari matahari makhluk berangkat menepati janji hijau langit bertukar mendung gelombang reda di tepi pantai. Selangkan gagak beralih warna semerbak cempaka sekali hilang apatah lagi laguan kasih hilang semata tiada ketara... Tuhanku apatah kekal?

Puisi Cempaka Mulia - Amir Hamzah

Cempaka Mulia Kalau kulihat tuan, wahai suma kelopak terkembang harum terserak hatiku layu sejuk segala rasakan badan tiada dapat bergerak Tuan tumbuh tuan hamba kembang di negeriku sana di kuburan abang kemboja bunga rayuan hatiku kechu melihat tuan Bilamana beta telah berpulang wah, semboja siapatah kembang di atas kuburku, si dagang layang? Kemboja, kemboja bunga rayuan hendakkah tuan menebarkan bibit barang sebiji di atas pangkuan musafir lata malang berakit? Melur takku mahu mawar takku suka, sebab semboja dari dahulu telah kembang di kubur bonda kemboja bunga rayuan musafir anak Sumatera Pulau Perca tempat pangkuan bilamana fakir telah tiada.

Puisi Purnama Raya - Amir Hamzah

Purnama Raya Purnama raya bulan bercahaya amat cuaca ke mayapada Purnama raya gemala berdendang tuan berkata naiklah abang Purnama raya bujang berbangsi kanda mara memeluk dewi Purnama raya bunda mengulik nyawa adinda tuan berbisik. Purnama raya gadis menutuk setangan kuraba pintu diketuk Purnama raya bulan bercengkerama beta berkata tinggallah nyawa Purnama raya kelihatan jarum adinda mara kanda dicium Purnama raya cuaca benderang permata kekanda pulanglah abang...

Puisi Kurnia - Amir Hamzah

Kurnia Kau kurniai aku, Kelereng kaca cerah cuaca, Hikmat raya tersembunyi dalamnya, Jua bahaya dikandung kurnia, jampi kau beri, Menundukkan kepala naga angkara. Kelereng kaca kilauan kasih, Menunjukkan daku tulisan tanganMu Memaksa sukmaku bersorak raya Melapangkan dadaku, senantiasa sentosa Sebab kelereng guli riwarni, Kuketahui langit tinggi berdiri, Tanah rendah membukit datar. Kutilik diriku, dua sifat mesra satu: Melangit tinggi, membumi keji.

Puisi Ragu - Amir Hamzah

Ragu Asap pujaan bergulung-gulung naik melingkar kekimu dewa rasanya hati melambung-lambung estu kupohonkan akan kurnia. "Permaisurimu, Uma, sudah kupuja seroja putih beta sembahkan sekarang ini wahai Ciwa pada tuanku beta paparkan". Wajahnya arca berkilau-kilau bibir terbuka rupa berkata giginya tampak bersinar-sinar bunyi keluar merdu suara. "anakku dewi ratna juita apatah tersimpul di dalam dada uraikan tuan pada ayahnda rinduan mana mohonkan sempana?" Wajahnya jernih gilang gemilang sentosa semayam di atas durja padma seraga berbayang-bayang dikucupi cahaya pernama raya. hatinya dayang rasa terbuka suka dan ria silih berganti permohonan hati lupa segala kerana cahaya menimpa diri. Bibir berpisah melepaskan pelukan suara lalu meninggalkan simpulan gadis berkata melayangkan rinduan "duli" tuanku patik pohonkan.

Puisi Hang Tuah - Amir Hamzah

Hang Tuah Bayu berpuput alun digulung banyu direbut buih dibubung Selat Melaka ombaknya memecah pukul-memukul belah membelah Bahtera ditepuk buritan dilanda penjajab dihanatuk haluan ditunda Chamar terbang riuh suara alkamar hilang menyelam segera. Armada Peringgi lari bersusun Melaka negeri hendak diruntun. Galyas dan pusta tinggi dan kukuh pantas dan angkara ranggi dan angkuh Melaka! laksana kehilangan bapa randa! sibuk mencari cendera mata! "Hang Tuah ! Hang Tuah! di mana dia panggilkan aku kesuma perwira!" Tuanku, sultan Melaka, Maharaja Bintan! dengarkan kata bentara kanan. "Tun Tuah, di Majapahit nama termashur badanya sakit rasakan hancur!" Wah, alahlah rupanya negara Melaka kerana laksamana ditimpa mara. Tetapi engkau wahai kasturi kujadikan suluh, mampukah diri? Hujan rintik membasahi bumi guruh mendayu menyedihkan hati. Keluarlah suluh menyusun pantai angkatan Pertugal haj...