Posts

Showing posts from May, 2017

Puisi Aku Tulis Pamplet Ini - W.S. Rendra

Aku Tulis Pamplet Ini Aku tulis pamplet ini karena lembaga pendapat umum ditutupi jaring labah-labah Orang-orang bicara dalam kasak-kusuk, dan ungkapan diri ditekan menjadi peng-iya-an Apa yang terpegang hari ini bisa luput besok pagi Ketidakpastian merajalela. Di luar kekuasaan kehidupan menjadi teka-teki menjadi marabahaya menjadi isi kebon binatang Apabila kritik hanya boleh lewat saluran resmi, maka hidup akan menjadi sayur tanpa garam Lembaga pendapat umum tidak mengandung pertanyaan. Tidak mengandung perdebatan Dan akhirnya menjadi monopoli kekuasaan Aku tulis pamplet ini karena pamplet bukan tabu bagi penyair Aku inginkan merpati pos. Aku ingin memainkan bendera-bendera semaphore di tanganku Aku ingin membuat isyarat asap kaum Indian. Aku tidak melihat alasan kenapa harus diam tertekan dan termangu. Aku ingin secara wajar kita bertukar kabar. Duduk berdebat menyatakan setuju dan tidak setuju. Kenapa ketakutan men...

Puisi Kelelawar - W.S. Rendra

Kelelawar Silau oleh sinar lampu lalulintas Aku menunduk memandang sepatuku. Aku gentayangan bagai kelelawar. Tidak gembira, tidak sedih. Terapung dalam waktu. Ma, aku melihatmu di setiap ujung jalan. Sungguh tidak menyangka Begitu penuh kamu mengisi buku alamat batinku. Sekarang aku kembali berjalan. Apakah aku akan menelefon teman? Apakah aku akan makan udang gapit di restoran? Aku sebel terhadap cendikiawan yang menolak menjadi saksi. Masalah sosial dipoles gincu menjadi fizika. Sikap jiwa dianggap maya dibanding mobil berlapis baja. Hanya kamu yang enak diajak bicara. Kakiku melangkah melewati sampah-sampah. Akan menulis sajak-sajak lagi. Rasa berdaya tidak bisa mati begitu saja. Ke sini, Ma, masuklah ke dalam saku bajuku. Daya hidup menjadi kamu, menjadi harapan.

Puisi Lagu Serdadu - W.S. Rendra

Lagu Serdadu Kami masuk serdadu dan dapat senapang ibu kami nangis tapi elang toh harus terbang Yoho, darah kami campur arak! Yoho, mimpi kami patung-patung dari perak Nenek cerita pulau-pulau kita indah sekali Wahai, tanah yang baik untuk mati Dan kalau ku telentang dengan pelor timah cukilah ia bagi puteraku di rumah Siasat No. 630, th. 13 Nopember 1959

Puisi Sajak Tangan - W.S. Rendra

Sajak Tangan Inilah tangan seorang mahasiswa, tingkat sarjana muda. Tanganku. Astaga. Tanganku menggapai, yang terpegang anderox hostes berumbai, Aku bego. Tanganku lunglai. Tanganku mengetuk pintu, tak ada jawaban. Aku tendang pintu, pintu terbuka. Di balik pintu ada lagi pintu. Dan selalu : ada tulisan jam bicara yang singkat batasnya. Aku masukkan tangan-tanganku ke celana dan aku keluar mengembara. Aku ditelan Indonesia Raya. Tangan di dalam kehidupan muncul di depanku. Tanganku aku sodorkan. Nampak asing di antara tangan beribu. Aku bimbang akan masa depanku. Tangan petani yang berlumpur, tangan nelayan yang bergaram, aku jabat dalam tanganku. Tangan mereka penuh pergulatan Tangan-tangan yang menghasilkan. Tanganku yang gamang tidak memecahkan persoalan. Tangan cukong, tangan pejabat, gemuk, luwes, dan sangat kuat. Tanganku yang gamang dicurigai, disikat. Tanganku mengepal. Ketika terbuka menjadi cakar. Aku meraih ke arah delapan pen...

Puisi Sajak Peperangan Abimanyu - W.S. Rendra

Peperangan Abimanyu (Untuk puteraku, Isaias Sadewa) Ketika maut mencegatnya di delapan penjuru. Sang ksatria berdiri dengan mata bercahaya. Hatinya damai, di dalam dadanya yang bedah dan berdarah, karena ia telah lunas menjalani kewjiban dan kewajarannya. Setelah ia wafat apakah petani-petani akan tetap menderita, dan para wanita kampung tetap membanjiri rumah pelacuran di kota ? Itulah pertanyaan untuk kita yang hidup. Tetapi bukan itu yang terlintas di kepalanya ketika ia tegak dengan tubuh yang penuh luka-luka. Saat itu ia mendengar nyanyian angin dan air yang turun dari gunung. Perjuangan adalah satu pelaksanaan cita dan rasa. Perjuangan adalah pelunasan kesimpulan penghayatan. Di saat badan berlumur darah, jiwa duduk di atas teratai. Ketika ibu-ibu meratap dan mengurap rambut mereka dengan debu, roh ksatria bersetubuh dengan cakrawala untuk menanam benih agar nanti terlahir para pembela rakyat tertindas – dari zaman ke z...

Puisi Ajak Sebotol Bir - W.S. Rendra

Ajak Sebotol Bir Menenggak bir sebotol, menatap dunia, dan melihat orang-orang kelaparan. Membakar dupa, mencium bumi, dan mendengar derap huru-hara. Hiburan kota besar dalam semalam, sama dengan biaya pembangunan sepuluh desa ! Peradaban apakah yang kita pertahankan ? Mengapa kita membangun kota metropolitan ? dan alpa terhadap peradaban di desa ? Kenapa pembangunan menjurus kepada penumpukan, dan tidak kepada pengedaran ? Kota metropolitan di sini tidak tumbuh dari industri, Tapi tumbuh dari kebutuhan negara industri asing akan pasaran dan sumber pengadaan bahan alam Kota metropolitan di sini, adalah sarana penumpukan bagi Eropa, Jepang, Cina, Amerika, Australia, dan negara industri lainnya. Dimanakah jalan lalu lintas yang dulu ? Yang neghubungkan desa-desa dengan desa-desa ? Kini telah terlantarkan. Menjadi selokan atau kubangan. Jalanlalu lintas masa kini, mewarisi pola rencana penjajah tempo dulu, adalah alat penyaluran barang-barang asing dari pe...

Puisi Sajak Kenalan Lamamu - W.S. Rendra

Kenalan Lamamu Kini kita saling berpandangan saudara. Ragu-ragu apa pula, kita memang pernah berjumpa. Sambil berdiri di ambang pintu kereta api, tergencet oleh penumpang berjubel, Dari Yogya ke Jakarta, aku melihat kamu tidur di kolong bangku, dengan alas kertas koran, sambil memeluk satu anakmu, sementara istrimu meneteki bayinya, terbaring di sebelahmu. Pernah pula kita satu truk, duduk di atas kobis-kobis berbau sampah, sambil meremasi tetek tengkulak sayur, dan lalu sama-sama kaget, ketika truk tiba-tiba terhenti kerna distop oleh polisi, yang menarik pungutan tidak resmi. Ya, saudara, kita sudah sering berjumpa, kerna sama-sama anak jalan raya. …………………………… Hidup macam apa ini ! Orang-orang dipindah kesana ke mari. Bukan dari tujuan ke tujuan. Tapi dari keadaan ke keadaan yang tanpa perubahan. ……………………. Kini kita bersandingan, saudara. Kamu kenal bau bajuku. Jangan kamu ragu-ragu, kita memang pernah bertemu. Waktu it...

Puisi Lagu Seorang Gerilya - W.S. Rendra

Lagu Seorang Gerilya (Untuk puteraku Isaias Sadewa) Engkau melayang jauh, kekasihku. Engkau mandi cahaya matahari. Aku di sini memandangmu, menyandang senapan, berbendera pusaka. Di antara pohon-pohon pisang di kampung kita yang berdebu, engkau berkudung selendang katun di kepalamu. Engkau menjadi suatu keindahan, sementara dari jauh resimen tank penindas terdengar menderu. Malam bermandi cahaya matahari, kehijauan menyelimuti medan perang yang membara. Di dalam hujan tembakan mortir, kekasihku, engkau menjadi pelangi yang agung dan syahdu Peluruku habis dan darah muncrat dari dadaku. Maka di saat seperti itu kamu menyanyikan lagu-lagu perjuangan bersama kakek-kakekku yang telah gugur di dalam berjuang membela rakyat jelata Jakarta, 2 september 1977 Potret Pembangunan dalam Puisi

Puisi Nyanyian Sukma - Kahlil Gibran

Nyanyian Sukma Di dasar relung jiwaku Bergema nyanyian tanpa kata; sebuah lagu yang bernafas di dalam benih hatiku, Yang tiada dicairkan oleh tinta di atas lembar kulit ; ia meneguk rasa kasihku dalam jubah yg nipis kainnya, dan mengalirkan sayang, Namun bukan menyentuh bibirku. Betapa dapat aku mendesahkannya? Aku bimbang dia mungkin berbaur dengan kerajaan fana Kepada siapa aku akan menyanyikannya? Dia tersimpan dalam relung sukmaku Kerna aku risau, dia akan terhempas Di telinga pendengaran yang keras. Pabila kutatap penglihatan batinku Nampak di dalamnya bayangan dari bayangannya, Dan pabila kusentuh hujung jemariku Terasa getaran kehadirannya. Perilaku tanganku saksi bisu kehadirannya, Bagai danau tenang yang memantulkan cahaya bintang-bintang bergemerlapan. Air mataku menandai sendu Bagai titik-titik embun syahdu Yang membongkarkan rahsia mawar layu. Lagu itu digubah oleh renungan, Dan dikumandangkan oleh kesunyian, Dan di...

Puisi 7 Alasan Mencela Dirimu - Kahlil Gibran

7 Alasan Mencela Dirimu Tujuh kali aku pernah mencela jiwaku, pertama kali ketika aku melihatnya lemah, padahal seharusnya ia bisa kuat. Kedua kali ketika melihatnya berjalan terjongket-jongket dihadapan orang yang lumpuh. Ketiga kali ketika berhadapan dengan pilihan yang sulit dan mudah ia memilih yang mudah. Keempat kalinya, ketika ia melakukan kesalahan dan cuba menghibur diri dengan mengatakan bahawa semua orang juga melakukan kesalahan. Kelima kali, ia menghindar kerana takut, lalu mengatakannya sebagai sabar. Keenam kali, ketika ia mengejek kepada seraut wajah buruk padahal ia tahu, bahawa wajah itu adalah salah satu topeng yang sering ia pakai. Dan ketujuh, ketika ia menyanyikan lagu pujian dan menganggap itu sebagai suatu yang bermanfaat.

Puisi Bayang - Kahlil Gibran

Bayang Setiap langkah ku ada dia.. Mengikuti di belakang punggungnya. . Gelap dan tak terlihat.. Kasat mata.. Terdiam kala banyak yang membicarakannya. . Seakan tak seorang pun memandang kearah ku.. Sibuk mengagumi pesonanya.. Sibuk meminta senyumannya. . Akulah sang tak terlihat.. Saat dia berada di dekat ku.. Akulah sang gelap.. Dibalik wajah cerah nya.. Akulah sang kasat mata.. Ada namun seakan tak ada.. Akulah sang bayang.. Sesuatu yang tak dianggap ada.. menunggu Hari terhitung minggu Minggu pun menjadi bulan.. Pagi ku mengingat mu Malam ku mengenangmu Tetap saja semua sama Sejak kau pergi.. Ku masih saja menanti mu Hingga kau kembali Dan takkan tinggalkan ku lagi.. Entah kapan.. Menunggu mu masih.. Setia tetap ku janji.. Hingga ku dapat kau kembali.. Bersama jalani hari..

Puisi Kisahku - Kahlil Gibran

Kisahku Dengarkan kisahku... Dengarkan tetapi jangan menaruh belas kasihan padaku,  karena belas kasihan menyebabkan kelemahan, padahal aku masih tegar dalam penderitaanku... Jika kita mencintai, cinta kita bukan dari diri kita, juga bukan untuk diri kita, Jika kita bergembira, kegembiraan kita bukan berada dalam diri kita, tapi dalam hidup itu sendiri. Jika kita menderita, kesakitan kita tidak terletak pada luka kita,tapi dalam hati nurani alam. Jangan kau anggap bahwa cinta itu datang karena pergaulan yang lama atau rayuan yang terus menerus Cinta adalah tunas pesona jiwa, dan jika tunas ini tak tercipta dalam sesaat, ia takkan tercipta bertahun-tahun atau bahkan dari generasi ke generasi Wanita yang menghiasi tingkah lakunya dengan kendahan jiwa dan raga adalah sebuah kebenaran, yang terbuka namun rahasia; ia hanya dapat dipahami melalui cinta,  hanya dapat disentuh dengan kebaikan; dan ketika kita mencoba untuk menggambarkannya ia  ...

Puisi Sayap-Sayap Patah - Kahlil Gibran

Sayap-Sayap Patah Wahai Langit Tanyakan pada-Nya Mengapa dia menciptakan sekeping hati ini.. Begitu rapuh dan mudah terluka.. Saat dihadapkan dengan duri-duri cinta Begitu kuat dan kokoh Saat berselimut cinta dan asa.. Mengapa dia menciptakan rasa sayang dan rindu Didalam hati ini.. Mengisi kekosongan di dalamnya Menyisakan kegelisahan akan sosok sang kekasih Menimbulkan segudang tanya Menghimpun berjuta asa Memberikan semangat.. juga meninggalkan kepedihan yang tak terkira Mengapa dia menciptakan kegelisahan dalam relung jiwa Menghimpit bayangan Menyesakkan dada.. Tak berdaya melawan gejolak yang menerpa… Wahai ilalang… Pernah kan kau merasakan rasa yang begitu menyiksa ini Mengapa kau hanya diam Katakan padaku Sebuah kata yang bisa meredam gejolak hati ini.. Sesuatu yang dibutuhkan raga ini.. Sebagai pengobat tuk rasa sakit yang tak terkendali Desiran angin membuat berisik dirimu Seolah ada sesuatu yang kau ucapkan pada...

Puisi Cinta yang Agung - Kahlil Gibran

Cinta yang Agung Adalah ketika kamu menitikan air mata dan masih  peduli terhadapnya.... Adalah ketika dia tidak mempedulikanmu dan kamu masih  menunggunya dengan setia.... Adalah ketika dia mulai mencintai orang lain dan kamu masih menunggunya dengan setia....  Adalah ketika dia mulai mencintai orang lain dan kamu masih bisa tersenyum sembari berkata "Aku turut berbahagia untukmu" Apabila cinta tidak berhasil.... Bebaskan dirimu.... Biarkan hatimu kembali melebarkan sayapnya dan  terbang ke alam bebas lagi.... Ingatlah.... bahwa kamu mungkin menemukan cinta dan kehilangannya.... tapi.... ketika cinta itu mati.... kamu tidak perlu mati bersamanya.... Orang terkuat bukan mereka yang selalu menang.... Melainkan mereka yang tetap tegar ketika mereka jatuh

Puisi Antara Pagi Dan Malam Hari - Kahlil Gibran

Antara Pagi Dan Malam Hari TENANGLAH hatiku, kerana langit tak pun mendengari Tenanglah, kerana bumi dibebani dengan ratapan kesedihan. Dia takkan melahirkan melodi dan nyanyianmu. Tenanglah, kerana roh-roh malam tak menghiraukan bisikan rahsiamu, dan bayang-bayang tak berhenti dihadapan mimpi-mimpi. Tenanglah, hatiku. Tenanglah hingga fajar tiba, kerana dia yang menanti pagi dengan sabar akan menyambut pagi dengan kekuatan. Dia yang mencintai cahaya, dicintai cahaya. Tenanglah hatiku, dan dengarkan ucapanku. DALAM mimpi aku melihat seekor murai menyanyi saat dia terbang di atas kawah gunung berapi yang meletus. Kulihat sekuntum bunga Lili menyembulkan kelopaknya di balik salju. Kulihat seorang bidadari te***jang menari-menari di antara batu-batu kubur. Kulihat seorang anak tertawa sambil bermain dengan tengkorak-tengkorak. Kulihat semua makhluk ini dalam sebuah mimpi. Ketika aku terjaga dan memandang sekelilingku, kulihat gunung berapi memuntahkan nyala api,...

Puisi Musim Bunga - Kahlil Gibran

Musim Bunga Marilah, sayang, mari berjalan menjelajahi perbukitan, Salju telah cair dan Kehidupan telah terjaga dari lenanya dan kini mengembara menyusuri pegunungan dan lembah-lembah, Mari kita ikut jejak-jejak Musim Bunga, yang melangkaui Ladang-ladang jauh, dan mendaki puncak-puncak perbukitan 'Tuk menadah ilham dari aras ketinggian, Di atas hamparan ngarai nan sejuk kehijauan. Fajar Musim Bunga telah mengeluarkan pakaiannya dari lipatan simpanan, dan menyangkutnya pada pohon pic dan sitrus , dan mereka kelihatan bagai pengantin dalam upacara tradisi Malam Kedre.. Sulur-sulur daun anggur saling berpelukan bagai kekasih Air kali pun lincah berlompatan menari ria, Di sela-sela batuan, menyanyikan lagu riang. Dan bunga-bunga bermekaran dari jantung alam, Laksana buih-buih bersemburan, dari kalbu lautan Kemarilah, sayang: mari meneguk sisa air mata musim dingin, dari gelas kelopak bunga lili, Dan menenangkan jiwa, dengan gerimis nada-na...

Puisi Cermin Diri - Kahlil Gibran

Cermin Diri Jika sifat kalkulatif mutualisme membuat kau jauh dariku.... Berarti pemahaman Individualismu masih teramat dangkal.... aku benar-benar kecewa soal itu.... Percuma mulutku berbui sampai robek Kau takkan pernah paham maksudku.... Dan jika Kalturalis masih mengikat kuat di dalam pikiranmu Sampai mampus pun kau takkan bisa terima aku....! Kau seperti kaum Ortodox yang selalu akan menempatkan Egomu  di atas altar penyembahan itu.... Slalu ingin disanjung seperti anak kecil yang dicolok permen kemulutnya.... Jika Egomu diperolok Mukamu merah menyala bagai api....! Dasar manusia Ortodox....!

Puisi Zaman Edan - Taufiq Ismail

Zaman Edan Hidup di zaman edan Suasana jadi serba sulit Ikut edan tak tahan Tak ikut Tak kebagian Malah dapat kesengsaraan Begitulah kehendak Allah Sebahagia-bahagia orang lupa Lebih bahagia orang sadar dan waspada

Puisi Jaman Edan - Taufiq Ismail

Jaman Edan Amenangi jaman edan Ewuh aya ing pambudi Melu edan ora tahan Yen tan melu anglakoni Boya keduman melik Kaliren wekasanipun Dilalah kersaning Allah Begja-begjane kang lali Luwih begja kang eling lan waspada

Puisi Tentang Joki Jam Sembilan Pagi - Taufiq Ismail

Tentang Joki Jam Sembilan Pagi Beras berkata kepada saya, bahwa kacang kedele dan kelapa sawit, ayam daging, sapi inseminasi, ikan laut, dan ikan daratan, semua dalam keadaan segar bugar tidak kurang suatu apa. Dia tidak menyebut mengenai apa yang dihasilkan hutan yang lama terbakar dan saya lupa pula menanyakannya, Mesin giling menelponku baru-baru ini, bilang bahwa industri elektronika, komponen cip, kimia dasar, seluloid, otomotif, telekomunikasi, alat-alat berat, kereta api, kapal laut an kapal terbang dalam situasi menyenangkan dan sehat-sehat. Dia tidak berkisah tentang orang-orang yang berhasil menggerek lobang-lobang besar di bawah lantai bank dan rasanya aku sudah tahu jalan ceritanya, Aspal bertanya kepada saya apa hubungan semua ini dengan kesenian. Seorang anak kecil yang jadi joki jam sembilan pagi di jalan Thamrin cepat menjawab, “oom aspal, kesenian itu bagian dari kebudayaan, ekonomi bagian dari kebudayaan, sehinggamengacungkan jari di tepi jalan seperti sa...

Puisi Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia - Taufiq Ismail

Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia I Ketika di Pekalongan, SMA kelas tiga Ke Wisconsin aku dapat beasiswa Sembilan belas lima enam itulah tahunnya Aku gembira jadi anak revolusi Indonesia  Negeriku baru enam tahun terhormat diakui dunia Terasa hebat merebut merdeka dari Belanda Sahabatku sekelas, Thomas Stone namanya, Whitefish Bay kampung asalnya Kagum dia pada revolusi Indonesia  Dia mengarang tentang pertempuran Surabaya Jelas Bung Tomo sebagai tokoh utama Dan kecil-kecilan aku nara-sumbernya Dadaku busung jadi anak Indonesia Tom Stone akhirnya masuk West Point Academy Dan mendapat Ph.D. dari Rice University Dia sudah pensiun perwira tinggi dari U.S. Army Dulu dadaku tegap bila aku berdiri Mengapa sering benar aku merunduk kini  II Langit langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak Hukum tak tegak, doyong berderak-derak Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak, Berjalan aku di Sixth ...

Puisi Doa Orang Kubangan - Taufiq Ismail

Doa Orang Kubangan di hilir pemandian masih saja Kau sediakan logam mulia sebagai pancuran dan bejana platina bergagang emas tempat kami membasuh getah membilas dahak menguliti lendir mengikis selaput nanah menyadap barah ludah yang bertetesan berguguran berserakan di genangan yang jadi kubangan menggerakkan cairan isi lambung bertukak insisi pada hepar dijerat lemak dengan aroma yang menggilas dedaunan jadi kuning kering berguguran dan bermilyar insekta bunuh diri bersama kami pun sejadi-jadi mandi, serasa untuk terakhir kali setiap kerak lumpur gugur penyesalan macam cengkeram dengan sembilu seribu ada kultus dinyanyikan ada kultus berbayang-bayang ada pula tiada mana kentara beda lumpur selutut atau luluk bepercikan telah ke tangan dan muka dan bejana ini kami tating bersama ada hangat air dari mata dan telapak kaki bergerak ke hulu terasa sejuk penuh di atas lantai pualam pemandian dengan air pancuran hening bening bercucuran. 1998

Puisi Sajadah Panjang - Taufiq Ismail

Sajadah Panjang Ada sajadah panjang terbentang Dari kaki buaian Sampai ke tepi kuburan hamba Kuburan hamba bila mati Ada sajadah panjang terbentang Hamba tunduk dan sujud Di atas sajadah yang panjang ini Diselingi sekedar interupsi Mencari rezeki, mencari ilmu Mengukur jalanan seharian Begitu terdengar suara azan Kembali tersungkur hamba Ada sajadah panjang terbentang Hamba tunduk dan rukuk Hamba sujud dan tak lepas kening hamba Mengingat Dikau Sepenuhnya. 1984 (dinyanyikan Himpunan Musik Bimbo)

Puisi Dagang - Amir Hamzah

Dagang Susahnya duduk berdagang tiada tempat mengadukan duka bondaku tuan selalu terpandang hendak berjumpa apatah daya. Terlihat-lihat bonda merenung rasa-rasa Bonda mengeluh mengenangkan nasib tiada beruntung luka penceraian tiadakan sembuh. Bondapun garing seorang diri hati luka tiada berjampi nangislah ibu mengenangkan kami rasakan tiada berjumpa lagi. Allah diseru memohonkan restu moga kami janganlah piatu aduh ibu, kemala hulu bukankah langit tiada berpintu? Sudahlah nasib tiada bertemu sudahlah untung hendak piatu bagaimana mengubah janji dahulu sudah diikat di rahim ibu.

Puisi Memuji Dikau - Amir Hamzah

Memuji Dikau Kalau aku memuji Dikau, Dengan mulut tertutup, mata tertutup, Sujudlah segalaku, diam terbelam, Di dalam kalam asmara raya. Turun kekasihmu, Mendapatkan daku duduk bersepi, sunyi sendiri. Dikucupnya bibirku, dipautnya bahuku, Digantunginya leherku, hasratkan suara sayang semata. Selagi hati bernyanyi, sepanjang sujud semua segala, Bertindih ia pada pahaku, meminum ia akan suaraku … Dan, iapun melayang pulang, Semata cahaya, Lidah api dilingkung kaca, Menuju restu, sempana sentosa.

Puisi Doa Poyangku - Amir Hamzah

Doa Poyangku Poyangku rata meminta sama semoga sekali aku diberi memetik kecapi, kecapi firdausi menampar rebana, rebana swarga Poyangku rata semua semata penabuh bunyian kerana suara suara sunyi suling keramat kini rebana di celah jariku  tari tamparku membangkit rindu kucuba serentak genta genderang memuji kekasihku di mercu lagu Aduh, kasihan hatiku sayang alahai hatiku tiada bahagia jari menari doa semata tapi hatiku bercabang dua.

Puisi Cempaka - Amir Hamzah

Cempaka Cempaka, aduhai bunga penghibur lara tempat cinta duduk bersemayam sampaikan pelukku, wahai kusuma pada adinda setiap malam. Sungguh harum sedap malam sungguh pelik bunga kemboja tetapi tuan, aduhai pualam pakaian adinda setiap masa. Sungguh tak kelihatan ia berbunga cemp[aka tersembunyi dalam sanggul tetapi harumnya, aduhai kelana di dalam rambut duduk tersimpul. Amat bersahaja cempaka bunga putih arona, hijau nen tampuk pantas benar suntingan adinda terlebih pula di sanggul duduk.

Puisi Panji di Hadapanku - Amir Hamzah

Panji di Hadapanku Kau kibarkan panji di hadapanku. Hijau jernih di ampu tongkat mutu-mutiara. Di kananku berjalan, mengiring perlahan, Ridlamu rata, dua sebaya, Putih-putih, penuh melimpah, kasih persih. Gelap-gelap kami berempat, menunggu-nunggu, Mendengar-dengar, suara sayang, panggilan-panjang, Jatuh terjatuh, melayang-layang, Gelap-gelap kami berempat, meminta-minta, Memohon-mohon, moga terbuka selimut kabut, Pembungkus halus, nokta utama, Jika nokta terbuka-raya, jika kabut tersingkap semua Cahaya ridla mengilau kedalam Nur rindu memancar keluar.

Puisi Dalam Matamu - Amir Hamzah

Dalam Matamu Tanahku sayang berhamparkan daun bersinar cahaya lemah gemilang dari jauh datang mengalun suara menderu selang-menyelang Renggang rapat berpegang jari kita mendaki bukit tanahmu dinda berkhabar bijak berperi kelu kanda kerana katamu. Berhenti kita sejurus lalu berdekatan duduk sentosa semata hatiku sendu merindu chumbu kesuma sekaki abang kelana. Hilang himpau air terjun bunga rimba bertudung lingkup kanda memangku sekar suhun lampai permai mata tertutup. Remuk redam duka di dada di hanyutkan arus dewa bahagia menjelma kanda di bibir kesumba rasa menginyam madu swarga. Dalam matamu tenang sentosa kanda memungut bunga percaya japamantera di kala duka pelerai rindu di malam cuaca. Dalam matamu jernih bersih kanda kumpulkan mutiara cinta akan tajuk mahkota kasih kanda sembahkan kepada bonda.

Puisi Kerana Kasihmu - Amir Hamzah

Kerana Kasihmu Kerana kasihmu Engkau tentukan sehari lima kali kita bertemu Aku inginkan rupamu kulebihi sekali sebelum cuaca menali sutera Berulang-ulang kuintai-intai terus menerus kurasa-rasakan sampai sekarang tiada tercapai hasrat sukma idaman badan Pujiku dikau laguan kawi datang turun dari datukku di hujung lidah engkau letakkan piatu teruna di tengah gembala Sunyi sepi pitunang poyang tidak merentak dendang dambaku layang lagu tiada melangsing haram gemercing genta rebana Hatiku, hatiku hatiku sayang tiada bahagia hatiku kecil berduka raya hilang ia yang dilihatnya.

Puisi Selamat Tinggal - Chairil Anwar

Selamat Tinggal Aku berkaca Ini muka penuh luka Siapa punya ? Kudengar seru menderu dalam hatiku Apa hanya angin lalu ? Lagu lain pula Menggelepar tengah malam buta Ah.......!! Segala menebal, segala mengental Segala tak kukenal .............!! Selamat tinggal ................!! Dari: Deru Campur Debu

Puisi Kangen - W.S. Rendra

Kangen Kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku menghadapi kemerdekaan tanpa cinta kau tak akan mengerti segala lukaku kerna luka telah sembunyikan pisaunya. Membayangkan wajahmu adalah siksa. Kesepian adalah ketakutan dalam kelumpuhan. Engkau telah menjadi racun bagi darahku. Apabila aku dalam kangen dan sepi itulah berarti aku tungku tanpa api.

Puisi Hujan Bulan Juni - Sapardi Djoko Damono

Hujan Bulan Juni Tak ada yang lebih tabah Dari hujan bulan juni Dirahasiakannya rintik rindunya Kepada pohon berbunga ituTak ada yang lebih bijak Dari hujan bulan juni Dihapuskannya jejak-jejak kakinya Yang ragu-ragu di jalan ituTak ada yang lebih arif Dari hujan bulan juni Dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu 1989

Puisi Akulah Si Telaga - Sapardi Djoko Damono

Akulah Si Telaga akulah si telaga: berlayarlah di atasnya; berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil yang menggerakkan bunga-bunga padma; berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya; sesampai di seberang sana, tinggalkan begitu saja — perahumu biar aku yang menjaganya Perahu Kertas, Kumpulan Sajak, 1982.

Puisi Angin, 3 - Sapardi Djoko Damono

Angin, 3 “Seandainya aku bukan …… Tapi kau angin! Tapi kau harus tak letih-letihnya beringsut dari sudut ke sudut kamar, menyusup celah-celah jendela, berkelebat di pundak bukit itu. “Seandainya aku . . . ., .” Tapi kau angin! Nafasmu tersengal setelah sia-sia menyampaikan padaku tentang perselisihan antara cahaya matahari dan warna-warna bunga. “Seandainya …… Tapi kau angin! Jangan menjerit: semerbakmu memekakkanku. Perahu Kertas, Kumpulan Sajak, 1982.

Puisi Angin, 2 - Sapardi Djoko Damono

Angin, 2 Angin pagi menerbangkan sisa-sisa unggun api yang terbakar semalaman. Seekor ular lewat, menghindar. Lelaki itu masih tidur. Ia bermimpi bahwa perigi tua yang tertutup ilalang panjang di pekarangan belakang rumah itu tiba-tiba berair kembali. Perahu Kertas, Kumpulan Sajak, 1982.

Puisi Angin, 1 - Sapardi Djoko Damono

Angin, 1 angin yang diciptakan untuk senantiasa bergerak dari sudut ke sudut dunia ini pernah pada suatu hari berhenti ketika mendengar suara nabi kita Adam menyapa istrinya untuk pertama kali, “hei siapa ini yang mendadak di depanku?” angin itu tersentak kembali ketika kemudian terdengar jerit wanita untuk pertama kali, sejak itu ia terus bertiup tak pernah menoleh lagi — sampai pagi tadi: ketika kau bagai terpesona sebab tiba-tiba merasa scorang diri di tengah bising-bising ini tanpa Hawa Perahu Kertas, Kumpulan Sajak, 1982.

Puisi Yang Fana adalah Waktu - Sapardi Djoko Damono

Yang Fana adalah Waktu Yang fana adalah waktu. Kita abadi: memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga sampai pada suatu hari kita lupa untuk apa. “Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?” tanyamu. Kita abadi. Perahu Kertas,Kumpulan Sajak, 1982.

Puisi Hatiku Selembar Daun - Sapardi Djoko Damono

Hatiku Selembar Daun Hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput; nanti dulu, biarkan aku sejenak… Terbaring di sini; ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput; Sesaat adalah abadi sebelum kausapu tamanmu setiap pagi…

Puisi Nota Bele : Aku Kangen - W.S. Rendra

Nota Bele : Aku Kangen Lunglai - ganas karena bahagia dan sedih, indah dan gigih cinta kita di dunia yang fana. Nyawamu dan nyawaku dijodohkan langit, dan anak kita akan lahir di cakrawala. Ada pun mata kita akan terus bertatapan hingga berabad-abad lamanya. Juwitaku yang cakap meskipun tanpa dandanan untukmu hidupku terbuka. Warna-warna kehidupan berpendar-pendar menakjubkan Isyarat-isyarat getaran ajaib menggerakkan penaku. Tanpa sekejap pun luput dari kenangan padamu aku bergerak menulis pamplet, mempertahankan kehidupan. Jakarta, Kotabumi, 24 Maret 1978 Potret Pembangunan dalam Puisi

Puisi Anugerah Cinta - Kahlil Gibran

Anugerah Cinta Bersamalah dikau tatkala Sang Maut merenggut umurmu. Ya, bahkan bersama pula kalian, dalam ingatan sunyi Tuhan. Namun biarkan ada ruang antara kebersamaan itu, tempat angin surga menari-nari di antaramu. Berkasih-kasihanlah, namun jangan membelenggu cinta, biarkan cinta itu bergetak senantiasa, bagaikan air hidup, yang lincah mengalir antara pantai kedua jiwa. Saling isilah piala minumanmu, tapi jangan minum dari satu piala. Saling bagilah rotimu, tapi jangan makan dan pinggan yang sama. Bernyanyi dan menarilah bersama, dalam segala suka cita. Hanya biarkanlah masing-masing menghayati ketunggalannya. Tali rebana masing-masing punya hidup sendiri, walau lagu yang sama sedang menggetarkannya. Berikan hatimu, namun jangan saling menguasakannya, sebab hanya Tangan Kehidupan yang akan mampu mencakupnya. Tegaklah berjajar, namun jangan terlampau dekat Bukankah tiang-tiang candi tidak dibangun terlalu rapat? Dan pohon jati serta pohon ...